Kompas Sabtu, 12 Maret 2005

MASJID Al Khalifah Ibrahim
berdiri megah di Kecamatan Matang Kuli. Di bangunan itu biasanya Faizullah bersembahyang, seperti juga warga sekitar yang rata-rata petani. Di tempat itu pula terkadang berlangsung berbagai acara terutama terkait keagamaan.

Akan tetapi, hampir sebulan ini Faizullah punya kesibukan lain di rumah Tuhan itu. Di ruang berukuran 3 x 4 meter di pojok lantai dua masjid tersebut sekarang terdapat sepuluh unit komputer yang dapat mengakses internet. Lengkap dengan server, scanner, faksimile, dan handycam. Ruangan lain di sebelahnya-berukuran 5 x 4 m-terdapat televisi, DVD player, juga ratusan buku.

...

Faizullah, sang remaja masjid, kini bertanggung jawab mengelola segala fasilitas itu setelah diserahi jabatan sebagai ketua community learning centre (CLC) yang dinamai Pusat Pengembangan Intelektual Umat itu.

Sarana itu merupakan bantuan dari sejumlah perusahaan, seperti PT Microsoft Indonesia dan ExxonMobil Oil Indonesia, difasilitatori oleh Yayasan Pakta (Pengembangan Aktivitas Kemitraan Terpadu). Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil meresmikannya Selasa (8/3).

Dia mengatakan, segala bantuan ditempatkan di masjid karena di sanalah salah satu pusat kegiatan masyarakat Matang Kuli. Tidak hanya di Matang Kuli, tiga pusat belajar berbasis teknologi informasi lain yang diresmikan juga bertempat di masjid, Masjid An Nur di Kecamatan Tanah Luas, Masjid Murthada di Kecamatan Syamtalira Aron, dan Masjid Baitur Rohim di Kecamatan Lhok Sukon.

Suryadi-Ketua Pusat Pembelajaran Intelektual Masyarakat di Masjid Murthada di Kecamatan Syamtalira Aron-mengatakan, masjid merupakan tempat semua orang berkumpul dan datang tanpa harus ada keperluan khusus. Pintunya terbuka 24 jam.

Hakikat CLC sendiri ialah ruang publik tempat orang dapat mendapatkan informasi dan berinteraksi. Untuk Aceh, masjidlah yang sesuai.

Yang ingin diberdayakan memang potensi masyarakat. Untuk sumber daya manusia, misalnya, para remaja masjid dilatih merakit komputer secara fisik dan menginstal sendiri. Bukan hal yang mudah karena bagi sebagian mereka, komputer masih benda asing.

Faizullah, misalnya, semula tidak tahu-menahu soal komputer sampai kemudian mendapat pelatihan dan belajar mengelola pusat belajar itu.

Di sanalah diharapkan akan terbuka ruang komunikasi dan interaksi masyarakat sehingga terjadi perubahan sosial dan wawasan.

Salah satu sasarannya adalah membangun pertanian. Di empat kecamatan tersebut, bertani dan berkebun menjadi mata pencaharian sebagian besar masyarakatnya. Fasilitas teknologi informasi seperti internet diharapkan memperluas pengetahuan dan wawasan para petani untuk meningkatkan kemampuannya.

Namun, karena tidak mudah menjangkau para petani, maka dimulailah dari para remaja masjid. Mereka yang kemudian akan membantu mengenalkan dan mengajari masyarakat sekitar menggunakan teknologi.

Untuk itu, pusat pembelajaran di Masjid Al Khalifah Ibrahim Matang Kuli akan membangun situs Pustaka Tani yang memuat berbagai informasi pertanian, mulai dari cuaca, penelitian ilmiah pertanian, harga, kesuksesan petani di daerah lain, teknologi tepat guna. Setiap hari pusat belajar masyarakat itu membuka pelayanan online gratis selama 2 jam. Ada pula layanan informasi offline terkait pertanian dan peternakan dalam 100 keping cakram.

Mulkan (30) adalah salah satu yang sering mengakses informasi tersebut. Guru kontrak itu ingin sekali suatu saat dapat beternak sapi sehingga sering buka informasi soal cara beternak sapi.

Warga juga dapat mengikuti berbagai kursus komputer dengan biaya sangat murah dan yang tidak mampu akan dibebaskan dari biaya. “Iuran sekadarnya itu untuk pemeliharaan dan agar warga merasa ikut memiliki fasilitas ini,” ujarnya.

Di samping itu, terdapat fasilitas audiovisual untuk menonton berbagai keping cakram. Sebagian remaja masjid di sana juga diajari menggunakan handycam, mengedit gambar, dan membuat VCD.

Mereka berencana menerima pesanan merekam berbagai acara dan dana yang diperoleh akan digunakan untuk pemeliharaan fasilitas. Soalnya, pihak donor hanya memberikan dana operasional dan perawatan satu tahun.

Khusus untuk anak-anak terdapat area membaca dengan matras berwarna-warni ceria. Mereka juga dapat menonton berbagai program dengan televisi dan DVD player.

Dari sebuah sudut di rumah Tuhan itulah diharapkan tercipta perubahan sosial dan kesenjangan teknologi informasi dipersempit.

Syahril Amir, Direktur Program CLC dari Yayasan Pakta, mengatakan, warga dapat beribadah sekaligus belajar.

Para remaja masjid di Lhok Sukon tentu saja sangat senang, mengingat selama ini tidak ada fasilitas internet di kecamatan itu.

“Kalau mau berinternet, saya harus menempuh perjalanan lebih dari setengah jam ke pusat kota Lhok Seumawe,” kata Yus Riza, pelajar.

Berdasarkan pengalamannya membangun pusat belajar berbasis teknologi informasi di Gunung Kidul, misalnya, budaya baca yang kurang dapat ditingkatkan dengan mengalihkan bacaan ke bentuk menarik secara visual.

Bagi yang memanfaatkannya memang terjadi perubahan. Toni Kuswaji (25), misalnya, beberapa tahun lalu hanya seorang nelayan di Rembang Jawa-Tengah. Saat pertama kali berkenalan dengan teknologi informasi seperti internet, dia mengaku canggung. Kini dia tidak hanya piawai berselancar di dunia maya mencari berbagai informasi, tetapi juga bisa membangun jaringan internal dan menginstal sendiri.

Kini Toni turut andil membangun fasilitas internet dan jaringan internal pusat belajar masyarakat di Kec.Matang Kuli,Kec.Lhoksukon,Kec.Syamtalira Aron,Kec.Tanah Luas-Kab.Aceh Utara. Siapa tahu remaja Aceh menyusul. (Indira Permanasari)


Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved