SETIAP hari sejak bangun tidur, lelaki tua berkacamata tebal itu membaca buku, merapikan dan memperbaiki sampul sebagian buku-bukunya yang mulai rusak. Sore hari dia berkeliling Yogyakarta dengan bersepeda atau naik bus kota untuk mengedarkan aneka macam buku.

DIA mendatangi kelompok-kelompok bermain anak, siswa-siswa di sekolah, remaja masjid, pemuda karang taruna, kelompok pengajian, tukang becak yang tengah mangkal, bahkan para ibu pedagang di pasar-pasar untuk dipinjaminya buku secara gratis.

...
Lelaki itu adalah Mbah Dauzan Farook (79), warga Kampung Kauman, Yogyakarta-"Mbah" artinya kakek. Dialah pemilik Perpustakaan Mabulir, singkatan dari majalah dan buku bergilir, yaitu perpustakaan yang didirikannya, dikelolanya, dan didanainya sendiri.

Di rumahnya yang sederhana di sebuah gang sempit di Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, buku-buku dan majalah bertebaran. Di ruang tamunya hanya ada dua buah sofa butut. Selebihnya adalah rak berisi buku-buku dan majalah. Kamarnya juga penuh dengan buku, bertumpuk sampai hampir menyentuh langit-langit.

"Buku adalah kekayaan yang bisa mencerahkan manusia. Para pendiri bangsa kita dulu adalah orang-orang yang sangat kuat dalam membaca sehingga semangat dan wawasan kebangsaan mereka sangat tinggi," kata lelaki yang tidak menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sastra Timur Universitas Gadjah Mada ini.

Mbah Dauzan selalu membaca semua buku sebelum dipinjamkan kepada para pelanggan, walaupun untuk membacanya dia harus menggunakan kaca pembesar. Ia ingin memberikan bacaan yang terbaik. Semua orang dari berbagai latar belakang dilayaninya, tanpa membedakan agama, pendidikan, atau kedudukannya.

Beberapa kali ia keluar masuk Kantor Wali Kota Yogya Herry Zudianto untuk meminjamkan buku-buku. Mantan calon presiden Amien Rais dan sejumlah tokoh lain di Yogyakarta juga pernah meminjam buku kepadanya.

MBAH Dauzan lahir tahun 1925 di Kampung Kauman, Kota Yogya, tempat kelahiran organisasi massa Muhammadiyah. Kecintaannya terhadap buku bermula sejak kecil ketika dia sering membantu bapaknya, H Muhammad Bajuri, yang menjadi pengelola Taman Pustaka Muhammadiyah atau Perpustakaan Muhammadiyah.

Saat perang kemerdekaan, Dauzan remaja bergabung dengan para gerilyawan dalam pasukan Sub Wehrkreise (SWK) 101. Ia terlibat kontak fisik di dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kota Baru 6 Juli 1945 dan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Pada tahun 1950 dia keluar dari ketentaraan dengan pangkat terakhir letnan dua. Dia melanjutkan usaha batik orangtuanya, tetapi berhenti pada tahun 1975 saat bisnis batik di Yogyakarta hancur. Ia lalu berdagang emas dan jadi distributor buku.

Tahun 1989 Mbah Dauzan mendapat uang pensiun veteran sebesar Rp 500.000 per bulan, yang justru membebaninya. "Saya seperti mendapat amanah besar untuk memakai uang itu dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan negara ini," katanya.

Dia menghabiskan uang itu untuk membeli buku-buku di Shopping Centre, pusat penjualan buku bekas Yogyakarta. Sejak itulah Mbah Dauzan mulai berkeliling mengedarkan buku-bukunya secara gratis.

Ia meminjamkannya dengan sistem bergilir, yang dinamakannya multylevel reading. "Mengelola perpustakaan keliling adalah bisnis dengan keuntungan abstrak. Landasannya kepercayaan sehingga aturannya tidak perlu birokratis. Dagangan Tuhan. Tidak perlu ada KTP atau apa. Sesama manusia saudara, harus bisa dipercaya," ujarnya.

Memang ada bukunya yang hilang, tetapi ia tidak kapok. "Risiko mati saja berani, kok cuma kehilangan buku," katanya.

Mbah Dauzan menyiasatinya dengan membentuk kelompok dan tidak lagi melayani pinjaman secara perseorangan, kecuali kepada orang-orang yang sangat dikenalnya. Koordinator kelompok bacaan itulah yang menjadi rekanan Mbah Dauzan untuk mengontrol peredaran buku-buku tersebut.

Untuk menyegarkan koleksinya, buku-buku yang sudah jenuh diberikan kepada anak-anak desa melalui kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa dan kegiatan sosial yang lain.

"Kalau kita memelihara ikan di dalam akuarium, bukankah airnya harus rutin diganti? Pembaca harus diberi buku-buku baru agar tidak bosan," ujarnya.

Dengan prinsip itu, koleksi buku di Perpustakaan Mabulir bisa mengikuti perkembangan zaman. Buku-buku baru tentang komputer, ekonomi modern, kumpulan cerpen, dan novel-novel baru yang populer berbaur dengan buku-buku kuno era Pujangga Baru serta buku-buku sejarah dengan bahasa daerah, bahasa Indonesia, maupun Belanda.

Kini jumlah koleksi Perpustakaan Mabulir sekitar 5.000 buku dan 4.000 majalah. Jumlah kelompok membaca yang dibinanya mencapai 100 kelompok, dengan masing-masing anggota kelompok 4-20 orang.

Mabulir sudah punya perwakilan di lima kota, yaitu Jakarta, Solo, Brebes, Purworejo, dan Magelang. Semua pengelola perwakilan itu sebelumnya adalah para pelanggannya. Sebulan atau dua bulan sekali mereka menukarkan buku kepada Mbah Dauzan. "Saya berharap, suatu saat perwakilan itu mandiri," katanya.

Perpustakaan Mabulir terus berkembang. Bahkan, pengelola Perpustakaan Daerah DIY menitipkan sekitar 500 buku kepada Dauzan untuk dikelola. Sejumlah sukarelawan yang sebagian besar remaja silih berganti datang ke rumah Mbah Dauzan dan membantunya mengelola perpustakaan. Di samping itu, dia juga menggaji empat karyawan tetap.

Namun, uang pensiunnya tidak lagi mencukupi sehingga ia mulai menggerogoti sisa tabungan hasil berdagang. "Suatu saat tabungan itu mungkin akan habis. Tetapi, tak apalah, toh saya juga sudah tua. Nyawa saya juga sudah mau habis," ungkapnya.

Lima anaknya tinggal di Jakarta dan Solo. Tiga lainnya di Yogya, tetapi memilih tinggal bersama keluarga mereka. Empat tahun lalu istri Mbah Dauzan meninggal sehingga dia tinggal sendirian.

Mbah Dauzan tercenung ketika ditanya siapa yang bakal meneruskan perpustakaan itu, sedang tak satu pun dari delapan anaknya tertarik.

"Saya hanya bisa menyebarkan virus untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan sistem perpustakaan keliling. Entah siapa yang meneruskan, bisa siapa saja...," katanya. (AHMAD ARIF)
Sumber : Kompas
Diposting oleh petani berdasi

STOK SATU TON GAPLEK; Tiwul Yu Tum Sambut Lebaran (timur balai desa wonosari)

MARKASNYA di sebuah dapur berdinding gedhek sederhana. Peralatannyapun juga sederhana. Ada meja panjang 1,5 meter. Tungku api yang selalu menyala, dan aneka perabot dapur lengkap. Di sini Ny Tumirah (73) memroses pembuatan tiwul manis sejak sepuluh tahun lalu. Tetapi dari tempat sederhana ini Tiwul Yu Tum, demikian sebutan populer-nya, sudah merambah ke rumah-rumah mewah. Tak hanya di Yogya, tetapi sudah masuk Jakarta. Bahkan beberapa warga negara asing pernah terpikat mencicipi makanan khas Gunungkidul. ”Waktu pameran di Jakarta banyak warga Singapura dan Malaysia membeli tiwul,” kata Yu Tum yang ditemui di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Minggu (15/10).

...
Sejatinya, Yu Tum berdagang sudah puluhan tahun. Tetapi usahanya jatuh bangun. Bahkan dapat disebut banyak jatuhnya dibanding bangunnya. Pada suatu hari, dia mencoba untuk membuat tiwul. Karena dari pantauannya, makanan khas Gunungkidul sudah menjadi makanan langka. Sehingga banyak yang menanyakan jual tiwul atau tidak. Awalnya produksi hanya terbatas untuk dijual ke pasar dan masyarakat sekitar. Tetapi, karena peminatnya semakin banyak, dia terus meningkatkan jumlah pembuatan dan juga kualitas tiwul.

Apalagi, setiap ada tamu dari luar daerah, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul selalu sajikan tiwulnya. Sehingga para tamu yang pernah mencicipi ketagihan. Terutama yang tinggal di Yogya lain hari datang membeli langsung di rumahnya yang terletak di sebelah timur balai Desa Wonosari.

Dari hari ke hari, jumlah pembeli terus meningkat. Bahkan, sekarang ini tiap hari dapat menjual sekitar 100 kardus tiwul dan gatot. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat. Apalagi jika pemudik lebaran sudah datang. Permintaan diperkirakan akan meningkat. ”Sekarang ini sudah stok gaplek sekitar 1 ton,” ujarnya.

Tak hanya bahan baku yang disiapkan. Tenaga kerjanyapun sekarang sudah enam orang. Sekitar lebaran nanti jumlahnya dapat bertambah. Harga tiap paket tiwul belum naik. Paket kecil Rp 10 ribu yang besar Rp 12 ribu. Pembeli bisa minta tiwul saja, tetapi juga bisa satu paket sudah dengan gatot. Harganyapun sama. Tak ada masalah dengan modal.

Semula memang kami kesulitan. Tetapi sejak permintaan terus meningkat, usahanya tidak lagi ada masalah dengan modal kerja. Bahkan, tiap harinya dapat mengantongi untuk bersih sekitar Rp 300 ribu. Sudah setahun lebih ini, penjualannya tak dilayani langsung dari dapur. Tetapi Yu Tum sudah membuat kios penjualan di depan rumahnya. Bahkan, setiap hari tampak sejumlah kendaraan mewah parkir berjajar di depan kiosnya. Keadaan ini akan semakin padat ketika mendekati maupun setelah lebaran. Ibu enam anak ini mengaku usahanya sudah mulai mapan. Bahkan, dia juga sudah membantu peluang kerja beberapa wanita. Yu Tum yang semula bergelut langsung dengan tepung gaplek, gula, nangka, kelapa, kini tinggal memeriksa pekerjaan karyawannya. Di usia senjanya dia berasa bahagia. Tak hanya karena dagangannya laris. Tetapi dapat membantu mengobati kerinduan sementara masyarakat yang ingin menikmati tiwul. (www.kr.co.id).
Diposting oleh petani berdasi
PENDAHULUAN

Ubi jalar (Ipomoea batatas (L.) Lamb.) Merupakan sumber karbohidrat yang dapat dipanen pada umur 3 – 8 bulan. Selain karbohidrat, ubijalar juga mengandung vitamin A,C dan mineral serta antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Disamping itu, ubi jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri dan pakan ternak.

Di Indonesia, ubi jalar umumnya sebagai bahan pangan sampingan. Sedangkan di Irian Jaya, ubi jalar digunakan sebagai makanan pokok. Komoditas ini ditanam baik pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Luas panen ubu jalar diindonesia sekitar 230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha. Padahal dengan teknologi maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton umbi basah/ha.

...

VARIETAS

Terdapat 8 varietas unggul yang dilepas sejak tahun 1990 hingga 2001. Varietas-varietas ini selain mempunyai produktivitas tinggi, juga mempunya sifat tahan terhadap hama boleng Cylas formicarius dan penyakit kudis shaceloma batatas (Tabel 1). Untuk menjaga potensi hasil, bibit yang ditanam harus berkualitas. Bibit dapat diperoleh dari umbi sehat yang disemai dan kemudian diambil tunasnya.

PENYIAPAN LAHAN

Ubi jalar dapat ditanam ditegalan atau sawah. Penyiapan lahan ditujukan untuk menciptakan media tumbuh yang gembur dan subur. Tanah dan diolah dan dibuat guludan dengan lebar 40 – 60 cm dan tinggi 25- 30 cm

Jarak antar guludan 80-100 cm. Pada tanah berat(berlempung) untuk membuat guludan yang gembur perlu ditambah 10 ton bahan organic/ha.

CARA TANAM

Ubi jalar ditanam setelah padi yaitu awal hingga pertengahan musim kemarau. Penyertaan ubi jalar dalam pergiliran tanaman dengan padi sawah sangat bagus dipandang dari segi aspek keberlanjutan, khususnya aplikasi bahan organic pada ubi jalar saat musim kemarau.

Populasi tanaman sekitar 35.000 sampai 50.000 tanaman /ha. Dengan jarak antar baris /gulud 80-100 cm, dan dalam baris 20-30 cm. Bibit dari stek pucuk, tunas semai umbi. Ubi jalar dapat pula ditanam pada system tumpang sari dengan tingkat naungan tidak lebih 30 %.


PEMUPUKAN

Takaran pupuk 100-200 kg urea + 100 kg SP 36 +100 kg KCI + 10 ton pupuk kandang/ha. Pupuk kandang diberikan bersamaan pembuatan guludan. 1/3 dosis urea dan KCI serta seluruh SP 36 diberikan pada saat tanam. Sedangkan sisanya, 2/3 Urea dan KCI diberikan pada saat tanaman berumur 1,5 bulan. Aplikasi pupuk harus ditutup dengan tanah.

PENYIANGAN GULMA

Penyiangan gulma dilakukan sebelum pemupukan kedua. Bagi ubi jalar yang ditanam setelah padi sawah, jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai mulsa sehingga dapat mengurangi biaya penyiangan gulma dan pembalikan batang. Peran pembalikan batang dapat digantikan dengan penggunaan mulsa karena pembalikan batang mencegah munculnya akar dari ruas batang.

PENGAIRAN

Pertanaman ubijalar musim kemarau, perlu diairi untuk mencapai produktivitas tinggi. Selain itu, pengairan yang cukup dapat menghindarkan ubi jalar dari serangan hama boleng Cylas formicarius.

PENGENDALIAN HAMA

Hama utama adalah hama boleng cylas formicarius, penggerek batang Omphisa anastomasalis serta nematode Meloidogyne sp yang merugikan ubi jalar

PENGENDALIAN PENYAKIT

Penyakit utama pada ubi jalar adalah jamur stek Fusarium sp. Dan kudis Spaceloma batatas

PANEN DAN PASCA PANEN

Ubi jalar dapat dipanen jika umbi sudah tua dan besar. Panen dapat serentak maupun bertahap. Secara fisik ubi jalar siap dipanen apabila daun dan batang sudah mulai menguning.

Didataran rendah, ubi jalar umumnya dipanen pada umur 3,5 – 5 bulan. Sedangkan didataran tinggi ubi jalar dapat dipanen pada umur 2 – 8 bulan.

Setelah dibersihkan dari tanah dan dipisahkan dari umbi yang tidak seha, umbi yang bertangkai hingga pangkal batang disatukan dalam bentuk ikatan tergantung pada tujuan kegunaan akhir. Umbi yang dikirimkan kepabrik dikemas dalam karung maupun curah. Sedangkan umbi yang dikirimkan kepasar dapat dikemas dalam berbagai bentuk sesuai selera pasa, misalnya diikat atau ditaruh dalam keranjang.

Ubi jalar dapat diolah secara sederhana menjadi berbagai bentuk masakan, dikukus, direbus, digoreng, dipanggang, dibakar, maupun dioven merupakan cara yang umum dilakukan dalam mempersiapkan ubi jalar untuk disajikan.

Selain dikonsumsi langsung ubi jalar dapat diolah menjadi produk antara dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan yepung diperoleh dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur dan menghancurkan (menepungkan) diayak pada ukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubi jalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim.

Tabel 1. Varietas unggul baru ubi jalar

Varietas Hasil Umbi (t/ha)
Umur Panen (bulan)
Warna Daging Umbi
Rasa Umbi
Sifat Khusus

Sari 30-35
3,5-4 Kuning Tua
Enak Manis
Agak tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan hama penggulung daun
Tahan penyakit scab atau kudis S batatas

Boko 25-30
4-4,5 Krem Enak Manis
Agak tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan hama penggulung daun
Toleran penyakit kudis dan bercak daun Cercospora sp

Sukuh 25-30
4-4,5 Putih Enak
Agak tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan hama penggulung daun
Tahan penyakit kudis dan bercak daun

Jago 25-30
4-4,5 Putih Enak
Agak tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan hama penggulung daun
Tahan penyakit kudis dan bercak daun

Cangkuang 32 4 Putih Enak Manis
Agak tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan penyakit kudis
Bahan kering tinggi

Sewu 30
4 Kuning Muda Agak enak manis
Tahan hama boleng C. Formucharius
Tahan penyakit kudis

Kidal 25-30
4-4,5
Kuning
Enak
Agak tahan hama boleng C. Formucharius dan Penggulung daun
Tahan penyakit kudis dan bercak daun
-------------------------
Sumber : BPTP Sulawesi
Diposting oleh petani berdasi
KOMPAS.com — Setiap Anda bertemu keluarga atau teman-teman, ada saja yang bertanya, "Kapan menikah?" Alasannya karena Anda dan Si Dia sudah lebih dari dua tahun berpacaran. Padahal Anda sendiri mungkin masih perlu mempertimbangkan, mampukah Anda hidup bersama dengan Si Dia hingga maut memisahkan? Untuk menilai benarkah ia Si "Mr Right", simak tanda-tandanya, yang dikutip dari buku Is He the Right One keluaran Chic Series Relationship ini.
...
1. Ia Pendengar yang Baik
Sebelum lelaki membuka hatinya untuk Anda, ia akan membuka telinganya kepada Anda terlebih dahulu. Lelaki yang ingin selalu dekat dengan Anda akan menjadi pendengar yang baik untuk Anda. Hal ini penanda bahwa ia mau memahami, peduli, dan concern kepada Anda. Artinya ia mau tahu apa yang menjadi perhatian Anda, baik itu senang atau sedih. Dia akan dengan senang hati mendengarkan Anda. Dia adalah orang yang bisa diandalkan untuk memberikan dukungan. Jika problem Anda cukup besar, dan Anda tidak mampu mengatasinya sendiri, bisa dipastikan dia akan berusaha sekuatnya untuk mencarikan Anda solusi.

2. Mengalir Begitu Saja
Hubungan Anda dengannya tidak pernah dipaksakan. Mengalir begitu saja. Kenyamanan yang Anda rasakan dengannya terjadi dengan mudah. Menurut pakar hubungan, selalu ada chemistry yang mengalir natural pada pasangan yang benar-benar cocok. Dengan mudah Anda berdua bisa melihat kelancaran hubungan itu, demikian pula orang-orang lain. Bukan hal aneh jika beberapa kali ada orang yang mengatakan pada Anda berdua, "Kalian pasangan yang cocok, deh!"

3. Tak Banyak Kompromi
Anda tak perlu banyak kompromi, bisa tampil apa adanya. Pasangan yang meminta Anda untuk berubah bukanlah pasangan yang diciptakan untuk Anda. Pada prinsipnya, pasangan yang sempurna adalah pasangan yang saling memelihara hubungan apa adanya. Mencintai kekasihnya dalam satu paket, lengkap dengan kelemahannya. Pasangan yang baik adalah pasangan yang mampu membuat kekasih hatinya merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Dia selalu memberi semangat dan dukungan agar Anda merasa baik dan menjadi lebih baik. Jika lelaki tidak merasa nyaman dengan dirinya sendiri, maka dia tidak akan bisa membuat diri Anda nyaman menjadi diri sendiri.

4. Mempercayainya Sepenuh Hati
Ketika Anda mempercayai partner Anda, maka Anda membuka hubungan itu pada banyak kemungkinan. Tanpa kepercayaan, sebuah hubungan tak bisa tumbuh baik dan bukan tidak mungkin berkembang jadi "neraka". Mempercayai pasangan adalah meyakini bahwa apapun yang dia lakukan adalah yang terbaik, dan percaya bahwa dia melakukannya untuk kebaikan Anda. Rahasia membangun kepercayaan itu adalah dengan tidak mengharap dia menjadi manusia sempurna.

5. Memperkaya Hidup Anda
Tenggelam dalam cinta semestinya membuat seseorang produktif dan memiliki hidup yang lebih berkualitas. Mr. Right seharusnya memperkuat imajinasi Anda dan merangsang keinginan Anda. Dia akan selalu ada untuk Anda, mendorong, mendukung, dan membuat Anda makin semangat mewujudkan mimpi-mimpi dan keinginan itu. Bahkan ketika Anda punya keinginan kuat untuk mencapai sesuatu yang juga dia inginkan. Seorang laki-laki yang baik selalu meng-encourage dan mendukung Anda secara profesional, personal, dan spiritual.

6. Dialah Teman Terbaik
Dialah teman terbaik yang Anda miliki, sekalipun dia bukan kekasih Anda. Pasangan yang awet dan diciptakan untuk bersama adalah pasangan yang juga berteman baik. Mengapa begitu? Karena membangun hubungan percintaan bisa terjadi dalam satu malam. Namun, membangun sebuah persahabatan butuh waktu jauh lebih panjang, terjalin secara perlahan. Jika dia sungguh-sungguh teman yang baik, sangat cocok dengan Anda, memiliki kualitas pertemanan yang tinggi, maka dia adalah orang yang fit dengan Anda. Dengan demikian, sekalipun kisah cinta itu berakhir, Anda berdua akan masih bisa berteman dengan baik.

7. Bermanja-manja pada Anda
Anda akan segera dapat membedakan kemanjaannya dengan kemanjaan anak kecil yang menyebalkan (spoil). Dia mungkin merengek seperti anak kecil, menyandarkan kepalanya di pangkuan Anda sambil meringkuk. Semua itu untuk menunjukkan bahwa Anda adalah perempuan yang berbeda dibanding perempuan mana pun di dunia ini. Tindakannya yang demonstratif itu pun untuk menunjukkan bahwa Andalah ratu di hatinya. Dia pun akan memanjakan Anda seperti anak perempuan kecil. Memijatkan kaki Anda begitu ia mendengar Anda sedang lelah, atau mencarikan makanan ketika Anda lapar di malam hari. Anda melihat pancaran sayang yang besar di matanya, begitu juga di tindakannya.

8. Punya Nilai Sama
Sebuah hubungan yang harmonis adalah bila memiliki nilai yang sama. Anda berdua boleh saja memiliki kesamaan religi, latar belakang keluarga, kehidupan sosial, bahkan finansial. Namun, Anda berdua tidak akan bisa berjalan bersama jika tidak punya kesepakatan terhadap satu nilai yang sama. Kesamaan nilai inilah yang membuat Anda dan dia ingin hidup dan berkembang bersama-sama.

9. Bagian dari Dunianya
Ketika Anda bertemu dengan orangtua, keluarga, rekan kerja, sahabat-sahabatnya, Anda bisa merasakan dan melihat bagaimana sosoknya di tengah-tengah orang dekatnya. Pasti ada perbedaan ketika dia bersama orang-orang terdekatnya dengan ketika bersama Anda. Lelaki yang serius menjadikan Anda partner hidupnya tidak hanya akan menjadikan Anda bagian dari dunianya sendiri, tetapi juga orang-orang dekat, hobi, dan pekerjaannya. Dia adalah lelaki yang dengan tulus hati membuka diri apa adanya pada Anda. Termasuk membiarkan sahabat-sahabatnya meledek dia gila-gilaan di depan Anda.

10. Berkorban demi Anda
Tanpa menghitung, tanpa banyak menimbang, dia akan segera berkorban jika Anda dalam kesulitan. Dia juga akan dengan segera memberikan barang berharga miliknya jika Anda menginginkannya. Di saat itulah Anda akan tahu bahwa dia mencintai Anda dengan serius. Ini belum dihitung pengorbanan memakai waktu istirahatnya untuk menemani Anda, uang untuk investasi masa depan bersama Anda, dan masih banyak lagi. Dia tak lagi memikirkan kepentingannya sendiri.

Jika lima saja dari tanda-tanda ini sudah ada di diri pasangan Anda, bisa jadi ialah Si Mr Right yang selama ini Anda cari-cari. Ayo tersenyumlah, siapa tahu pada kencan berikutnya dia akan mengucapkan “pertanyaan” itu.
Diposting oleh petani berdasi

SIANG yang panas dan terik. Di sebuah sudut jalan desa, mobil berpelat nomor polisi AD berhenti. Beberapa penumpang bergegas turun menuju sebuah warung berbilik bambu, yang berdekatan dengan kebun tebu. Di warung berdimensi 3 x 4 meter itu, mereka segera memesan sajian khas desa tersebut, lontong tuyuhan.
...

Marni (49), salah seeorang penjual lontong tuyuhan "Citra Rasa" menuturkan, Desa Tuyuhan yang terletak di jalur Lasem-Pamotan, semenjak tahun 80-an memang cukup terkenal dengan lontongnya. Mulai pukul 10.00-16.00, sepanjang jalan yang membelah perkebunan dan persawahan yang luas itu, puluhan warga mendirikan warung untuk berdagang lontong.

Awalnya, kata dia, lontong tersebut hanya dijajakan untuk para petani yang sedang menggarap sawah. Namun lambat-laun, karena semakin ramainya orang melintas jalur Lasem-Pamotan, akhirnya terkenalah lontong tersebut.

Lontong tuyuhan memang sangat khas. Berbeda dari lontong opor di daerah lain, lontong tuyuhan memiliki kekuatan pada kuah opornya yang benar-benar gurih dan daging yang empuk. Selain itu, lontong yang dibungkus daun pisang berbentuk segitiga tersebut juga dibikin dengan resep khusus, sehingga rasa dagingnya empuk dan lembut di mulut.

"Untuk membuat lontong ini, memerlukan keahlian khusus," ujar Marni. Lontong tuyuhan selalu diimbuhi dengan sedikit pandan, sehingga menimbulkan aroma nasi yang khas.

"Pandannya juga tidak boleh terlalu banyak. Agar rasa nasinya juga tetap terasa di lontong ini," tuturnya.

Selain lontong, opor ayam yang disajikan juga memiliki cara pemasakan yang khusus. Daging yang digunakan harus ayam kampung yang masih muda. Hal itu dimaksudkan agar daging yang dihasilkan lebih lembut. Selain itu, saat perebusan juga ditambahkan dengan bumbu-bumbu yang membuat daging terasa gurih.

Air Kendi

Selain hidangan lontong, pengunjung juga bisa menikmati segarnya air kendi selepas makan. Semua warung di sana memang masih mempertahankan air kendi sebagai minuman utama. "Namun beberapa di antaranya sudah menambah sajian air teh botol dan sebagainya," tuturnya.

Supardi (39), sopir mobil berpelat AD, saat mampir di warung lontong itu mengatakan, lontong tuyuhan selalu ngangeni siapa saja. Menurutnya, tidak lengkap rasanya saat berkunjung ke Lasem jika belum menyantap lontong tuyuhan.

"Bahkan keluarga saya tidak mau kalau ke Lasem malam-malam. Mereka minta saat siang sudah sampai di Lasem, biar bisa mampir ke Tuyuhan," ungkapnya.

Dia yang mengaku berjualan batik di daerah Sragen itu mengatakan, suasana saat makan lontong tuyuhan juga merupakan salah satu alasan yang membuatnya selalu berkunjung setiap waktu.

Dia menceritakan, pemandangan daerah sekitar Desa Tuyuhan dengan kebun tebu ataupun sawah di musim penghujan, membuatnya seperti makan di tengah-tengah sawah. "Suasana makan di tengah perkebunan dan persawahan yang asri seperti ini selalu menimbulkan nafsu makan yang besar," ujarnya seraya tertawa kecil.

Sesaat kemudian, Supardi yang berangkat bersama tiga anggota keluarganya langsung larut menikmati sajian lontong tersebut. Mereka seakan tak peduli, panas yang terik berdebu siang itu membuat tubuh mereka berkeringat. "Kalau sudah makan enak begini, mertua lewat juga tidak dihiraukan," selorohnya. (Mulyanto Ari Wibowo-15s)
Sumber : Suara Merdeka
Diposting oleh petani berdasi
Dipicu Keprihatinan terhadap Kelangkaan Pupuk

Berawal dari keprihatinannya terhadap kelangkaan pupuk yang terus meresahkan petani, Imam Ghozali, warga Desa Banjarejo, Kecamatan Kedungpring, terpilih sebagai pemuda pelopor terbaik tingkat Jawa Timur tahun ini di bidang teknologi tepat guna (TTG).

----------------------------------

Sukses yang diraih Imam Ghozali berawal dari keseriusannya memperkenalkan teknologi pembuatan pupuk organik yang mudah dan murah, kepada petani. Teknologi ini berupa penggunaan rumen (bagian dalam lambung) kambing untuk pembiakan bakteri pengurai limbah pertanian yang bisa dipakai sebagai pupuk organik. Agar semakin produktif, bahan tersebut ditambah batang pohon pisang dengan media pembiakan berupa air gula, terasi, air kelapa, dan sekam (kulit padi).
...

Bahan itu mudah dan murah serta bisa diciptakan sendiri oleh petani untuk membuat pupuk organik. ''Saat itu saya hanya ingin para petani tidak menganggap membuat pupuk itu sulit dan dengan biaya tinggi. Sebab, pupuk organik bisa dibuat sendiri dengan mudah dan murah,'' kata Imam saat bertemu wartawan koran ini Senin (6/10) lalu.

Menurut bapak dua anak itu, kegetolannya mengampanyekan pemakaian dan pembuatan sendiri pupuk organik dipicu kasus kelangkaan pupuk yang selalu terjadi setiap tahun dan meresahkan petani. Kelangkaan pupuk itu akibat ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sangat tinggi. Bahkan, pemakaiannya sampai berlebihan. Dalam satu hektare lahan yang seharusnya cukup 250 kg pupuk, petani menggunakan 750 kg sampai 1 ton pupuk.

''Kondisi seperti itu kalau dibiarkan akan sangat merugikan petani karena biaya tanamnya akan semakin tinggi. Dampaknya, petani menjadi objek permainan pedagang pupuk,'' katanya.

Selain itu, menurut dia pemakaian pupuk kimia secara terus menerus justru membuat tanah tidak subur. ''Karena (tanah) semakin padat,'' lanjutnya.

Melihat kondisi memprihatinkan seperti itu Imam mengaku teringat bapaknya yang juga seorang petani pada era 1980-an. Saat itu, lanjut dia, bapaknya sama sekali tidak butuh pupuk kimia. Cukup memakai pupuk dari kotoran sapi ditambah jerami padi sisa panen atau bisa disebut pupuk organik.

''Ternyata, saat itu tidak pernah mengeluh soal kelangkaan pupuk dan hasil panennya juga cukup bagus,'' ungkapnya.

Hal itu kontras dengan kondisi petani saat ini yang lebih suka membuang jerami padi dan kotoran ternaknya. Mereka kemudian memilih memakai pupuk kimia yang secara instan memang bisa meningkatkan hasil secara cepat, tetapi dalam waktu lama justru terbukti semakin merugikan mereka sendiri.

Berangkat dari pengalaman bapaknya tersebut, sejak 2004 Imam bersemangat mengampanyekan pemakaian pupuk organik. ''Karena saat ini zamannya sudah maju, penggunaan pupuk organik dilakukan dengan membuat media bakteri pengurai agar lebih mudah terbentuknya pupuk organik, tidak seperti dulu yang hanya disebarkan di tanah sawah,'' ungkapnya.

Imam menambahkan, bakteri dari rumen kambing juga bisa untuk pembuatan pakan ternak dari jerami. Pupuk buatannya itu juga telah diujicobakan di wilayah Kecamatan Sekaran dan hasilnya memuaskan. Bahkan, tanaman padinya lebih tahan terhadap serangan wereng.

''Jerami padi yang diberi bakteri tersebut akan lebih mudah lapuk, sehingga bisa untuk pakan ternak yang baik,'' terang pria yang telah diangkat menjadi petugas penyuluh pertanian (PPL) Kecamatan Kedungpring setahun lalu itu.

Terkait keberhasilannya terpilih sebagai pemuda pelopor terbaik Jatim 2008, jebolan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya itu mengaku sangat bersyukur. Dia juga minta doa restu warga Lamongan agar bisa berprestasi lagi di tingkat nasional. ''Yang terpilih menjadi pemuda pelopor terbaik nasional akan mendapat kesempatan studi banding ke China selama tiga bulan,'' katanya.

Menurut Plh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lamongan Moch. Kamil, proses terpilihnya Imam Ghozali menjadi pemuda pelopor terbaik Jatim 2008 itu dimulai Juni lalu. Yakni, dimulai dengan seleksi pemuda pelopor tingkat Kabupaten Lamongan 2008. ''Saat itu pesertanya ada 12 orang dari sembilan kecamatan,'' ungkapnya.

Dari seleksi itu terpilih tiga pemuda pelopor terbaik tingkat Kabupaten Kota Soto tersebut. Selanjutnya, pada Juli 2008 dua di antara tiga pemuda itu, termasuk Imam, mewakili Lamongan ke tingkat Jatim.

''Di tingkat Jatim ternyata saudara Imam Ghozali berhasil meraih juara bidang TTG dan berhak mewakili Jatim ke tingkat nasional,'' terangnya. (*)
B. FEBRIANTO, Lamongan
Sumber : Jawa Pos
Diposting oleh petani berdasi

Yurnaldi
Di tengah hutan lebat di Taman Nasional Bukit Duabelas di Makekal, wilayah Kabupaten Tebo, Jambi, sekelompok anak-anak tengah memegang buku dan pensil. Mereka siap sakola, belajar baca-tulis-hitung. Tidak ada yang memakai seragam, yang ada cuma anak-anak yang memakai celana pendek.

Bahkan, ada anak yang tidak berpakaian sama sekali. Tradisi keseharian mereka di hutan hanya pakai kain penutup kemaluan (cawot).

...

Tak jauh dari mereka berkumpul terdapat gubuk tempat belajar, genah pelajoron (rumah sekolah). Akan tetapi, siang itu mereka ingin belajar di alam terbuka, di bawah pohon. Inilah uniknya, sang guru/fasilitator mencari murid dan memberikan pelajaran baca-tulis-hitung (BTH) di mana murid suka.

Kelompok-kelompok orang rimba ini hidup tersebar di TNBD seluas sekitar 60.500 hektar.

Memberikan pendidikan alternatif kepada orang rimba, atau sering juga disebut Suku Anak Dalam atau orang Kubu, butuh perjuangan keras. Untuk mencapai lokasi dari Tebo, perlu waktu tiga jam perjalanan dengan kendaraan gardan ganda. Atau enam jam dari Kota Jambi. Setelah itu berjalan kaki 1-2 jam masuk hutan, kadang baru ditemui anak-anak rimba tersebut. Di mana bertemu dengan mereka, di situ belajar.

Terampil mendongeng

Sejak 10 tahun terakhir terlihat kemajuan luar biasa dari anak-anak rimba. Setelah diberikan pendidikan alternatif oleh Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi sejak 1998, anak-anak rimba, yang sebelumnya tak kenal BTH, tak hanya sekadar bisa BTH, tetapi kini juga sudah terampil mendongeng.

Sebagian dari dongeng-dongeng yang mereka tulis dibukukan dengan judul Kisah-kisah Anak Rimba (pengantar oleh Kak Seto, penerbit KKI Warsi, 2007). Ada sembilan dongeng orisinal yang dibukukan, yang selama ini turun-temurun ada dalam cerita-cerita kelompok orang rimba. Mereka menyebut dongeng itu sebagai ande-ande. Tradisi lisan lain yang hidup dalam tradisi orang rimba adalah sloko adat, bedeki (pantun), dan teka-teki.

”Dari nenek moyang mereka tidak ada tradisi tulis. Segala sesuatu diturunkan secara lisan. Mereka buta aksara. Setelah KKI Warsi memberikan pendidikan alternatif, baru mereka bisa BTH,” kata Sukmareni, staf Komunikasi, Informasi, dan Pembelajaran KKI Warsi.

Secara bertahap, anak-anak rimba mengenali huruf, melafalkannya, dan merangkainya menjadi kata-kata dan kalimat. Demikian juga dengan angka, dari mengenalkan angka hingga menjadi hitung-hitungan.

Menurut Sukmareni, sebagai anak orang rimba, kemampuan mereka boleh diacungi jempol. Dari pengenalan huruf hingga bisa merangkainya menjadi kata hanya dalam tempo dua bulan.

”Waktu belajar disesuaikan dengan waktu anak-anak. Terkadang pelajaran baru dimulai sekembalinya mereka dari berburu atau selesai membantu orangtua. Kadang mereka belajar sampai malam dengan penerangan lilin atau lampu teplok. Jika lelah belajar, mereka istirahat dulu, bermain, atau menangkap kodok atau ikan untuk makan malam,” papar Sukmareni.

Sudah 350 anak rimba

Keberadaan orang rimba tidak banyak. Dari pendataan KKI Warsi tahun 2008, populasi mereka ada 3.009 jiwa, yang tersebar dalam hutan di sepanjang jalan lintas Sumatera, mulai dari Singkut (batas Sumsel-Jambi) hingga Sungai Rumbai (batas Jambi-Sumbar).

Jumlah mereka di sepanjang lintas Sumatera ini ada 1.375 jiwa. Kemudian di dalam kawasan TNBD ada 1.300 jiwa yang tersebar di kawasan seluas 65.000 hektar. Dan, di kawasan Bukit Tigapuluh ada 434 jiwa yang tersebar di areal seluas 131.000 hektar.

Program Manager KKI Warsi Rudi Syaf mengatakan, berdasarkan pengalaman Warsi, anak-anak orang rimba sulit mengikuti pendidikan formal karena belum bisanya komunitas luar menerima mereka. Anak-anak rimba sering menerima ejekan yang sangat memengaruhi psikologis mereka. Selain itu, sekolah di luar rimba juga akan menyulitkan karena jauh dari permukiman mereka.

”Pendidikan yang efektif adalah seperti yang dilakukan Warsi sekarang dengan mendatangi anak-anak rimba tersebut ke kelompok-kelompok mereka. Fasilitator Warsi masing-masing akan berada di dalam hutan bersama anak-anak rimba selama 21 hari dalam sebulan,” ujarnya.

Menurut Rudi, saat ini ada sekitar 350 anak rimba yang terbebas dari buta aksara. Dari mereka, Warsi juga mendidik kader-kader guru dari anak-anak rimba yang dianggap berkemampuan lebih untuk mengajari BTH kepada anak lainnya. Hal ini penting dilakukan, mengingat banyaknya orang rimba yang harus diberi pendidikan.

Tahun 2009, KKI Warsi memprogramkan pendidikan untuk anak-anak rimba di kawasan hutan sepanjang jalan lintas Sumatera.

”Kalau ada tenaga guru yang diangkat pemerintah, khusus mengajar anak-anak rimba, itu sangat membantu. Sebab, tenaga pengajar dari Warsi terbatas,” ujar Rudi.

Tenaga pengajar dari Warsi saat ini ada dua orang, yaitu Fery Apriadi (sejak 2005) dan Galih Sekar Tyas Sandra (sejak 2006).

Rudi menjelaskan, penggunaan bahasa, alam pikiran, dan kebudayaan orang rimba akan mempercepat penerimaan pelajaran. Dan, pendidikan harus memberikan wawasan sebagai bekal untuk melihat perkembangan di dunia luar.
Sumber : Kompas
Diposting oleh petani berdasi

Oleh AGUSTINUS HANDOKO

Usaha budidaya jamur yang dirintis Hari Siswoyoto sejak tahun 1995 itu tidak hanya mampu menghidupi keluarganya, tetapi juga memberdayakan sedikitnya 700 petani di daerah Sukabumi, Bogor, dan Cianjur, Jawa Barat.

Padahal, ide membudidayakan jamur itu muncul secara kebetulan saat ia masih menjadi karyawan sebuah perusahaan otomotif di Jakarta pada tahun 1984. Awalnya, Hari Siswoyoto tak terpikir untuk mempunyai usaha sendiri, apalagi membudidayakan jamur.

...

Dia merasa cukup nyaman menjadi karyawan dengan penghasilan tetap. Inspirasi menjadi pengusaha muncul justru dari seorang pedagang rokok dan minuman. Kalau pedagang rokok saja berani punya usaha sendiri, bahkan bisa mengembangkannya dari satu tempat menjadi 10 tempat berjualan, mengapa ia tak berani?

Hari lalu berusaha mencari bidang usaha yang kira-kira bisa dia tekuni. Pilihannya jatuh pada jamur karena dia kerap melihat orang di kampungnya, daerah Sleman, DI Yogyakarta, suka mengonsumsi jamur, terutama ketika musim hujan.

”Ketika itu jamur belum banyak di pasaran. Saya langsung yakin, jamur bisa menjadi peluang yang menjanjikan,” kata Hari.

Dimulai dari keyakinan itulah, di sela-sela waktu kerjanya, Hari rajin berburu informasi hingga dia bertemu dengan seorang kepala sekolah pertanian di Sukabumi. Menimba ilmu pertanian dari ”ahlinya”, dia lalu membuat semacam kebun percontohan jamur di kawasan Cisarua, Bogor.

Percobaan budidaya jamur mulai dari pembibitan hingga panen yang dilakukan Hari relatif berhasil. Namun, keberhasilan itu saja belum bisa dijadikan ukuran untuk memulai usaha. Pasalnya, Hari belum menemukan pasar yang bisa menyerap produk jamurnya secara rutin.

Jaringan pemasaran

”Saya sempat putus asa karena pasar masih asing dengan produk pertanian bernama jamur. Harganya ketika itu juga masih sangat murah sehingga saya rugi jika budidaya jamur ini diteruskan,” cerita Hari yang menggunakan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) jenis Oister oleim untuk memberdayakan masyarakat pedesaan di Sukabumi, Bogor, dan Cianjur.

Namun, di sisi lain, dia juga pantang berhenti dengan usaha yang sudah dirintis itu. Hari kemudian menyambangi pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta untuk membuat jaringan pemasaran jamur.

Ketika itu harga jamur relatif masih murah, sekitar Rp 2.000 per kilogram. Pasar pun mulai terbentuk, dari satu-dua pedagang, beberapa pedagang lainnya pun minta pasokan jamur darinya.

Di sisi lain, produksi jamur yang bisa dia pasok ke pasar-pasar tradisional di Bogor dan Jakarta juga semakin stabil karena banyak petani di Cisarua yang mengikuti jejak Hari.

”Para petani di Cisarua bahkan bisa ikut mengontrol harga karena permintaan pasar cukup banyak. Petani jadi punya daya tawar tinggi terhadap pedagang,” kata Hari tentang kondisi pada tahun 1997 itu.

Baru pada tahun 2000 Hari dan seorang rekannya mengembangkan budidaya jamur itu secara besar-besaran sehingga makin banyak petani yang bisa dilibatkan. Harga jamur pun sudah meningkat menjadi Rp 6.000 per kilogram.

Seperti layaknya sebuah usaha yang mengalami pasang-surut, budidaya jamur yang dikembangkan Hari juga sempat menyurut. Bedanya, usaha jamurnya menyurut karena dia dipindahtugaskan dari kantor di Jakarta ke kantor cabang di salah satu kota di Kalimantan.

Namun, telanjur cinta pada jamur, Hari lalu memutuskan mengundurkan diri dari kantor tahun 2002. Dia memilih untuk fokus pada usaha jamurnya.

Sampai tahun 2005 semakin banyak petani di daerah Cikidang, Kabupaten Sukabumi, dan Puncak, Cianjur, yang terlibat dalam budidaya jamur yang dikelola Hari. Dengan bertani jamur, para petani binaannya bisa mendapatkan penghasilan dari Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per hari.

Tumbuh cepat

Dari pengalamannya selama ini, Hari berkesimpulan, budidaya jamur bisa diterima petani dalam waktu cepat sebab relatif mudah. ”Jamur itu parasit yang tumbuh cepat dan tidak memerlukan lahan yang luas,” katanya.

Jamur tiram, misalnya, bisa dibudidayakan dengan media tanam polybag yang disusun di rak-rak. Untuk budidaya jamur tiram sebanyak 10.000 polybag diperlukan dana sekitar Rp 20 juta.

Rinciannya, untuk bibit Rp 17 juta dan pembuatan rumah budidaya Rp 3 juta dengan ukuran 6 meter x 12 meter. Dari budidaya itu akan diperoleh hasil sekitar 60 kilogram jamur setiap hari.

Belakangan harga jamur tiram sekitar Rp 6.500 per kg dari tangan petani. Di pasar modern harga jamur tiram mencapai Rp 22.500 per kg. Jamur tiram makin diburu konsumen karena memiliki kandungan protein tinggi.

Karena berkembangnya amat cepat, jamur tiram harus dipanen setiap hari, bahkan bisa dipanen pada pagi dan sore. Pasalnya, jamur yang sudah dibudidayakan akan mati dalam waktu tiga hari sejak tumbuh.

”Satu bibit jamur tiram itu akan terus panen hingga empat bulan sehingga modal usaha rata-rata sudah akan kembali atau impas pada dua bulan pertama budidaya,” katanya.

Setelah berhasil memberdayakan petani di pegunungan di wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor, belakangan Hari giat mengajak pemilik lahan sempit di Kota Sukabumi. Ia membuat percontohan di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi.

”Dalam waktu empat bulan sudah 24 pembudidaya jamur yang ikut. Mereka umumnya memiliki lahan amat sempit. Bahkan, ada yang hanya seluas 2 meter x 3 meter, tetapi mereka rutin berproduksi dan menikmati keuntungan,” katanya.

Sebagian pembudidaya bahkan melebarkan usaha untuk memberi nilai tambah pada jamur karena hanya jamur berkualitas bagus yang bisa masuk ke pasar modern. Mereka mengolah jamur berkualitas rendah menjadi keripik jamur. Setelah dikeringkan, jamur digoreng. Harga jual keripik jamur ini bisa mencapai Rp 400.000 per kg.

Selain petani, budidaya jamur juga mulai dipraktikkan kesatuan militer dan kepolisian. Hari juga mendampingi usaha budidaya jamur di Sekolah Calon Perwira atau Secapa Polri Sukabumi.

Menurut rencana, konsep budidaya jamur tersebut akan dikembangkan untuk membekali anggota kepolisian keahlian yang bisa memberikan penghasilan di luar kedinasan.
Sumber : Kompas
Diposting oleh petani berdasi
ADA banyak cara seseorang mengabdikan diri dalam hidupnya. Abdullah Yatim (73) memilih jalan yang sangat jarang dilakukan orang lain. Selama hampir tiga perempat perjalanan hidupnya, ia mengajar mereka yang kurang beruntung karena mengalami cacat netra.

PADAHAL, mengajar membaca bagi anak-anak yang matanya normal saja tidak begitu mudah. Apalagi yang diajarkan bukan hanya membaca huruf Latin, tetapi juga membaca huruf Arab. Dengan kesabaran dan ketelatenan yang mengagumkan, Abdullah melahirkan tidak sedikit anak-anak cacat netra yang kini mahir membaca Al Quran.

...

Huruf-huruf dalam Al Quran tersebut bukan huruf Arab sebagaimana lazimnya kitab suci tersebut, tetapi huruf braille Arab. Huruf braille Latin dan huruf braille Arab bentuknya berbeda.

Huruf-huruf braille berbentuk titik-titik yang dibuat menyerupai lubang dengan permukaan agak menonjol. Huruf-huruf yang menjadi lambang bunyi itu dibuat di atas kertas manila atau sejenisnya. Para cacat netra membacanya dengan ketajaman saraf telapak ibu jari tangannya.

ABDULLAH Yatim tidak mengetahui pasti siapa yang menciptakan huruf braille Arab. Ia sendiri menolak disebut sebagai penciptanya. "Saya hanya melakukan pembaruan dan menambah lengkap beberapa huruf yang dianggap kurang," katanya merendah.

Namun berkat huruf-huruf Arab yang digunakannya untuk menulis Al Quran tersebut, ribuan penyandang cacat netra di seluruh pelosok Nusantara bisa melek huruf Al Quran.

Sebagai satu-satunya Al Quran huruf braille Arab yang disahkan Departemen Agama, kitab suci tersebut sudah lebih dari dua puluh kali naik cetak. Belum yang dicetak di luar negeri. Tetapi secara materi, Abdullah tidak memperoleh imbalan apa-apa atas hasil kreativitasnya.

"Saya anggap sebagai amal saya," kata bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Mohammad Yatim (ayah) dan Supiatun (ibu) ini.

Nama kedua orangtuanya itu pernah dijadikan nama keluarga sehingga menjadi Abdullah Yatim Piatu, walau saat itu kedua orangtuanya masih hidup. Namun karena dalam ijazahnya hanya mencantumkan nama ayahnya, ia dianjurkan Departemen Sosial agar tidak menambahnya dengan nama ibunya. Selama 33 tahun sejak 1957, Abdullah menjadi pegawai negeri sipil yang ditempatkan di Yayasan Penyantun Wiyata Guna (YPWG) Bandung. Ia pensiun tahun 1990 dengan golongan III A.

Putra Negeri Rencong yang lahir di Blang Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, 6 Oktober 1931 itu, dalam dalam dirinya menetes darah pengembara. Ayahnya, Mohammad Yatim, yang berasal dari Sumatera Barat, mengembara ke Aceh setelah sebelumnya menjadi mukimin di Mekkah selama enam tahun.

Mencontoh ayahnya, bungsu Abdullah meninggalkan kampung halamannya dalam usia remaja. Selain bekerja serabutan dan kemudian menjadi karyawan di Wiyata Guna, ia pernah melanjutkan pendidikannya di Sekolah Teknik Menengah (STM) Pengairan Trimurti di Jalan Pajagalan, Bandung. "Sekarang sekolahnya sudah lama bubar," kenangnya.

PERKENALANNYA dengan huruf braille Arab sebenarnya bisa dibilang terjadi secara kebetulan. "Ketika itu saya iseng-iseng membuka-buka buku yang terdapat di Perpustakaan Wiyata Guna," katanya.

Matanya kemudian tertarik dengan sebuah buku berjudul Al Misbach yang berasal dari Timur Tengah. Sampulnya ditulis dengan huruf Latin, tetapi isinya menggunakan huruf braille Arab. Isi buku tersebut rupanya telah menarik minatnya untuk belajar huruf braille Arab, walaupun Abdullah bukanlah seorang cacat netra.

Tanpa kenal lelah dan tanpa bimbingan guru, pada setiap kesempatan ia gunakan waktunya untuk belajar membaca huruf braille Arab secara autodidak. Kemudian ia belajar menulis braille Arab.

Karyanya yang pertama Surat Al Baqarah yang dibuatnya tahun 1959 dan kemudian dijilid lalu disimpan di gudang.

"Sekarang saya cari-cari ternyata sudah tidak ada lagi," kata ayah lima anak dari perkawinannya dengan Ny Ratini (72 tahun) yang berasal dari Semarang.

Dari pengalamannya mempelajari huruf braille Arab, Abdullah menemukan beberapa kekurangan huruf dalam Al Quran braille Arab yang berasal dari Arab Saudi. Hasil temuannya itu ia sampaikan ke Departemen Agama, sehingga pada tahun 1962 ia diminta menyusun Al Quran braille Arab. Hingga kini, karya tersebut merupakan satu-satunya Al Quran braille Arab yang beredar luas di seluruh pelosok Nusantara dan di negeri jiran.

KETIKA pertama kali menyusun Al Quran braille Arab, Abdullah menghabiskan waktunya selama dua setengah tahun untuk menyelesaikan 30 juz. Tetapi kini, ia sudah tergolong piawai. "Sekarang sudah lancar, bisa dengan tiga bulan sudah selesai 30 juz," katanya.

Satu juz Al Quran braille Arab paling tidak membutuhkan 30 hingga 35 halaman kertas manila. Tiap halaman berukuran 32 x 42 sentimeter. Karena ia juga menuliskan terjemahannya, maka satu juz bisa menghabiskan 70 halaman. Karena itu, Al Quran braille Arab berbeda dengan Al Quran huruf Arab. Karena ketebalannya, Al Quran braille Arab dijilid tiap juz.

Selain mengerjakan Al Quran braille Arab, Abdullah juga mengerjakan pengalihan huruf untuk kitab hadis, antara lain Bulughul Bukhari Maram dan Riyadus Shalihin.

Di rumahnya yang sederhana di bilangan Perumnas Sadangserang, Bandung, ia masih setia mengisi kegiatannya dengan menyumbangkan keahliannya. Sesekali ia masih harus berdiri di depan ruang kelas Kejuruan Ilmu Al Quran Braille (KIAB) yang diselenggarakan Wiyata Guna Bandung menghadapi anak didiknya yang belajar membaca Al Quran braille Arab. "Kalau sudah bisa membaca huruf braille Latin, sebenarnya membaca braille Arab tidak begitu sulit,"katanya.

Jumlah peserta KIAB tiap angkatan tidak begitu banyak. Rata-rata tiap tahun 7 hingga 10 orang. "Tahun ini hanya sepuluh orang," katanya.

Berkat bimbingannya, Abdullah telah membukakan pintu mata hati anak didiknya dalam memahami kandungan ayat-ayat suci Al Quran, di samping ribuan penyandang cacat netra lainnya yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Walaupun secara lahiriah, mereka itu tidak bisa melihat. (Her Suganda)
Sumber : Kompas
Diposting oleh petani berdasi

Listrik, kini menjadi kebutuhan pokok bagi manusia. Bayangkan, jika listrik padam saat malam, pemukiman penduduk seakan-akan menjadi kota hantu (dengan catatan, bila belum satu orang pun yang menyalakan lilin, lampu teplok, lampu senter, atau lampu emergensi).

Pernahkah anda membayangkan bahwa sebenarnya kita bisa menghasilkan listrik sendiri? Tentu saja ada syarat yang dibutuhkan, salah duanya, air yang mengalir kontinyu dan air yang mengalir dengan deras atau setidaknya aliran air memiliki perbedaan ketinggian.

...

Selama ini, kebanyakan dari kita yakin dan percaya bahwa listrik hanya bisa disediakan dari negara (baca: PLN). Sehingga, penduduk daerah pelosok negeri hanya bisa gigit jari, kapan ya waktu kita akan datang untuk mengecap sedikit cahaya dari benda yang telah lama ditemukan Alfa Edison?

Waktu sekolah dulu, salah seorang guru Fisika saya, memanfaatkan sungai kecil dekat rumahnya untuk menghemat pasokan listrik dari PLN. Tapi memang daya yang dihantarkan tidak sedahsyat energi listrik yang diberikan oleh PLN, namun cukup untuk keperluan listrik daya rendah seperti lampu rumah.

Pembangkit listrik yang demikian disebut Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. Kenapa mikro? Karena daya yang dihasilkan tergolong kecil (masih dalam hitungan ratusan kilowatt). Tenaga air ini bisa berasal dari saluran sungai, saluran irigasi, air terjun alam, atau bahkan sekedar parit asal airnya kontinyu. Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan tinggi terjunnya dan jumlah debit air.

Teknik dari pembangkit listrik ini sangat sederhana, yaitu menggerakkan turbin dengan memanfaatkan tenaga air. Untuk bisa menggerakkan turbin ini, harus ada air yang mengalir deras karena perbedaan ketinggian. Jika di suatu daerah tidak ada air yang mengalir deras, maka dibuat jalur air buatan misalnya bendungan kecil yang berfungsi sebagai pembelok aliran air.
Lalu, air yang mengalir deras akan sanggup menggerakkan turbin yang disambungkan ke generator, sehingga dihasilkanlah energi listrik.

Mikrohidro ini bisa dikatakan sebagai teknologi ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah atau sisa buangan yang berbahaya. Selain itu, bila diterapkan pada desa-desa terpencil, mereka akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui seperti minyak tanah atau pemakaian dari hasil hutan seperti kayu bakar. Dan juga akan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hutan, karena bila ingin air terus mengalir, secara tidak langsung hutan harus dijaga dari penebangan secara liar.

Kapan ya, seluruh pelosok daerah di negara kita bisa menggunakan teknologi ini?
Sumber : pinginpintar.com
Diposting oleh petani berdasi

Pernah dengar RT/RW net? itu loh salah satu ide cemerlang pak Onno W Purbo dalam memasyarakatkan internet mengunakan frekuensi 24 ghz yang dulu dipermasalahkan. Karena tidak menggunakan jalur telepon maka rt/rw net cenderung lebih murah, dan diharapkan dapat diakses oleh lebih banyak lapis masyarakat. Akses yang mudah dan murah itu adalah kata kuncinya, perpustakaan juga bisa begitu, bahkan saya bermimpi ada perpustakaan kecil-kecil yang dikelola oleh masyarakat selingkup RT atau RW.

...

Mengapa perpustakaan? kenapa bukan sesuatu yang lebih berguna? begitu mungkin pertanyaan yang akan kerap muncul. Mungkin akan saya jawab dengan pertanyaan lagi, apakah perpustakaan tidak penting?. Perpustakaan menjadi berguna bila masyarakat disekelilingnya memiliki rasa pemilikan yang tinggi. Sebenarnya pertanyaan di atas wajar saja mencuat mengingat bagaimana tanggapan kebanyakan orang terhadap perpustakaan sampai sekarang kurang begitu menghargai.

Walaupun sebenarnya yang terjadi antara masyarakat Indonesia dan perpustakaan adalah hubungan benci tapi rindu, atau jinak-jinak merpati. Bagaimana tidak, di sisi lain (semua) orang mengakui kebutuhannya pada perpustakaan, namun di sisi lain perpustakaan hampir-hampir mati kesepian ditengah hiruk-pikuk, akibat ketidakpedulian tentunya, memang apa lagi?

Seperti hujan di tengah Gurun Sahara ada saja satu dua tetes air membasahi kerongkongan yang dahaga, maraknya taman bacaan misalnya atau sesuatu yang miriplah bila tidak ingin disamakan dengan taman bacaan. Sebut saja Rumah Dunia yang dicetuskan oleh Gola-Gong di Banten sana, dengan target pembaca anak-anak tampaknya mereka cukup berhasil dengan program-programnya. Rumah Dunia cukup membasahi dahaga akan ilmu bagi anak-anak sekitarnya.

Tapi bagaimana bila dikembangkan tidak lagi untuk anak-anak namun juga untuk bapak-bapak atau aki-aki pensiunan yang mungkin sudah tidak ada kerjaan berarti? bagaimana kalau libatkan mereka membangun perpustakaan RT/RW di daerah sekitar mereka, tampaknya ide yang lumayan bukan? sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri diantara para sepuh, mengatasi post power syndrome juga memberikan masyarakat sekitarnya dengan ilmu-ilmu yang positif. Kenapa aki-aki? karena mereka mempunyai waktu cukup dan membangun perpustakaan sederhana tidak begitu sulit.

Tentunya program perpustakaan RT/RW juga disesuikan pada lingkungan sekitar, mengingat bukan lagi anak-anak yang menjadi target. Program perpustakaan RT/RW tentunya akan lebih nikmat bila dirancang ramai-ramai oleh warga sekitar sejak awal. Dari bagaimana mengumpulkan serta memanfaatkan koleksinya, dan yang paling penting adalah menghadirkan perpustakaan RT/RW yang mudah dan murah.

Connecting the dot...dari satu perpustakaan menjadi dua lalu menjadi sepuluh dan akhirnya berlipat-lipat. Siapa tahu, perpustakaan yang dipandang sebalah mata tadinya akan menjadi salah satu agen perubahan bangsa ini. Membuat orang kito lebih melek dengan kesempatan untuk lebih maju baik....yaa maju budayanya maju ekonominya, pastinya.

Diposting oleh petani berdasi
TIIN
FRUIT FROM PARADISE
Penulis: Budi Sutomo

Sebagian orang percaya kalau buah tiin (Ficus carica) adalah buah suci dari taman surgawi. Sedangkan literatur sejarah mencatat kalau buah tiin berasal dari Arab dan sudah ada semenjak 4000 tahun sebelum masehi. Sekarang pohon tiin telah banyak tumbuh dan dibudidayakan secara moderen di negara-negara Timur Tengah, daerah Mediterania bahkan di Indonesia.
...

Mentah-Matang Sama Lezatnya
Buah tiin muda berwarna kehijauan, seiring dengan matangnya buah, warna kulit akan berubah menjadi ungu kehitaman. Buah muda biasanya dikonsumsi sebagai olahan sayur, dimasak dengan aneka daging atau campuran selada. Jika sudah tua dan matang sangat lezat dikonsumsi sebagai buah meja. Di Timur Tengah maupun Eropa, tiin termasuk buah mewah dan sangat mahal. Dulunya hanya dikonsumsi kalangan bangsawan atau di saat acara-acara istimewa. Seiring dengan majunya teknologi pertanian, kini buah tiin makin mudah didapat dengan harga yang relatif lebih terjangkau.

Di negara-negara Eropa, buah tiin lebih popular dengan sebutan buah fig. Sepintas buah ini memiliki rasa dan aroma yang mirip dengan jambu biji. Aromanya harum semerbak, teksturnya empuk, rasanya keset, manisnya sedang, sedikit mengandung air dan berbiji banyak. Jika kita mengunyahnya, di dalam rongga mulut akan timbul sensasi menyenangkan karena biji-biji kecilnya yang tergigit. Selain sebagai buah meja, tiin juga sangat lezat dijadikan juice, campuran pudding, isi cake, manisan kering atau dikalengkan dalam sirup gula. Tingginya kandungan pectin, menjadikan buah ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan baku selai, jelly, jam, maupun marmalade dengan rasa lezat dan keharuman semerbak.

Gizi terkandung dan Manfaatnya
Berdasarkan penelitian California Fig Nutritional Information, buah tiin mengandung serat (dietary fiber)yang sangat tinggi. Setiap 100 gr buah tiin kering terkandung 12.2 g serat sedangkan appel hanya mengandung 2.0g dan jeruk 1.9g. Para Pakar kesehatan sangat menganjurkan untuk mengkonsumsi tiin secara teratur. Selain dapat membantu membersihkan racun di dalam tubuh, serat terkandung juga mampu mencegah kanker kolon dan penyakit degeneratif lainnya.

Hasil Riset Universitas Rutgers di New Jersey lain lagi. Penelitian Rutgers membuktikan kalau buah tiin mengandung antioksidan yang dapat mengikat senyawa karsinogen penyebab kanker. Tiin juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan bagi kesehatan, diantaranya omega-3 dan omega-6. lemak ini terbukti berperan dalam pencegahan penyakit jantung koroner. Kelebihan yang lain, buah tiin rendah lemak, rendah sodium, rendah kalori dan bebas kolesterol sehingga sangat cocok dikonsumsi para penderita diabetes mellitus.

Keistimewaan buah ini tidak berhenti sampai di sini. Beragam vitamin dan mineral bermanfaat terkandung di dalamnya. Setiap 100g buah tiin mengandung vitamin A sebanyak 9.76 IU, vitamin C, 0.68 mg, kalsium, 133.0 mg dan zat besi, 3.07mg. Vitamin dan mineral ini sangat diperlukan tubuh untuk menjaga dan memelihara kesehatan organ tubuh kita. Sungguh “si mungil” yang kaya manfaat! (Budi Sutomo)
Diposting oleh petani berdasi
DIA menolak tawaran beasiswa untuk meneruskan studi ke Jepang dan memilih tetap di desanya untuk mengelola satu hektar tanaman jeruk. Insinyur pertanian itu, Danang Sunarto (36), yakin bahwa jeruk pamelo (jeruk besar) bisa mengangkat perekonomian rakyat Kabupaten Magetan, Jawa Timur (Jatim), setidaknya untuk empat kecamatan sentra tanaman tersebut. Ternyata, dalam waktu lima tahun ia telah merasakan hasil jerih payahnya. Bahkan, ia terpilih sebagai Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur tahun 2003 ini dan diajukan sebagai calon dalam pemilihan tingkat nasional.
...

Danang, panggilan akrabnya, adalah alumnus Fakultas Pertanian Universitas Tunas Pembangunan (UTP), Solo, tahun 1992. Ia sempat bekerja selama dua tahun di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, lalu pindah ke perusahaan perkebunan di Kalimantan. Tetapi tidak betah, lalu pindah lagi ke perusahaan rokok di Malang dengan tugas mengurusi tanaman tembakau.

Namun, rupanya ikatan kosmis dengan tanah kelahirannya begitu kuat sehingga panggilan pulang ke desanya terus membayangi dirinya. Maka, pada tahun 1997 Danang memutuskan keluar dari perusahaan rokok itu dan kembali ke desanya, Kepuhrejo, Kecamatan Takeran. Ia mulai menggeluti tanaman jeruk berumur 15-20 tahun milik orangtuanya, seluas satu hektar.

Danang lalu menerapkan berbagai teori pertanian yang diperolehnya di universitas, sekaligus menimba pengetahuan praktis dari para petani jeruk yang berpengalaman dan berhasil. Bahkan, secara rutin ia juga berkonsultasi dan minta petunjuk dari para petugas Loka Penelitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik di Tlekung, Batu, Malang.

Memperhatikan pola pemasaran pamelo yang banyak dikuasai tengkulak dan merugikan para petani, bersama tiga rekannya-Bauki SPd, Yono SP, dan Murjianto-pada tahun 1999 Danang mendirikan Koperasi Tani Jeruk Jaya, Kecamatan Takeran. Pada awalnya jumlah anggotanya hanya 20 orang dan banyak tantangan dalam berbagai usaha yang dilakukan.

"Kami lebih mementingkan kualitas daripada jumlah anggota," tutur lelaki yang berhasil menyisihkan lebih dari 100 rival untuk menduduki predikat Pemuda Pelopor Jatim tersebut. Pernyataannya itu juga dibenarkan rekan-rekannya di Koperasi Jeruk Jaya.

TUJUAN utama koperasi itu yakni ingin memperbaiki kualitas produksi dan pemasaran yang menguntungkan pedagang maupun petani, sekaligus tidak "memukul" konsumen. Keinginan ini memang tidak gampang diwujudkan karena banyak kepentingan yang semula saling bertentangan harus disinkronkan. Namun, Danang dan rekan-rekannya secara ulet dan konsisten terus berusaha mewujudkannya.

Setelah menerima status badan hukum pada tahun 2000, koperasi lalu menata standar kualitas buah jeruk anggotanya dan mengirimkannya ke Jakarta untuk dipasarkan. Hasilnya cukup menggembirakan sehingga tahun 2002 anggotanya meningkat menjadi 40 orang dengan kepemilikan tanaman sekitar 20 hektar. Tahun itu koperasi berhasil mengirimkan lebih dari 100.000 buah jeruk ke Jakarta dengan harga di atas rata-rata pasaran karena kualitasnya dijaga tetap baik sehingga memuaskan konsumen.

Mengetahui harga penjualan koperasi lebih baik dibanding pasaran umum, beberapa petani mulai tertarik untuk bergabung. Tahun 2003 ini jumlah anggotanya sudah meningkat menjadi 200 petani. "Ternyata para petani itu ingin melihat contoh dulu. Jika terbukti baik, lalu ditiru dan diikuti," ujar lelaki yang saat ini kebanjiran permintaan untuk berkonsultasi tentang perjerukan.

Kegiatan koperasi sendiri akan lebih difokuskan pada diversifikasi usaha. Penerimaan anggota baru tetap dilakukan secara selektif. Syarat utama, bersedia meningkatkan kualitas buah dan berkoordinasi dalam pemasaran.

"Memang sulit mengurusi petani yang terbatas kemampuan ekonominya. Apalagi banyak godaan dari para tengkulak sehingga sering buah yang belum tua benar pun dipanen. Akibatnya, kualitas buah kurang baik," ujar Danang, ayah seorang putra berusia sembilan tahun itu.

Usaha lain yang dirintis adalah armada angkutan truk, baik untuk mengangkut pamelo pada musim panen maupun untuk angkutan lainnya. Koperasi sudah melakukan penelitian dan disimpulkan bahwa usaha ini bisa memberi keuntungan yang memadai. Untuk mewujudkannya tinggal menunggu permodalan.

Khusus yang terkait dengan buah pamelo, koperasi bermaksud memperbesar produksi manisan kulit jeruk, sekaligus mempermodern pemrosesannya, seperti yang dilakukan ibu-ibu dari Asosiasi Pamelo Magetan (APM). Sampai saat ini kulit pamelo masih banyak yang menjadi sampah (limbah) dan terbuang percuma. Padahal, setelah diproses menjadi manisan dan dikenal sebagai "kurmelo" (kurma pamelo), limbah itu berharga cukup baik. Sebelum dikemas harganya mencapai Rp 16.000 per kg, dan bila dalam kemasan bisa laku sampai Rp 20.000 per kg. Harga ini lebih baik dibanding harga jeruknya sendiri, yang berkisar Rp 5.000 per buah dengan berat maksimal sekitar 1,5 kilogram.

"Selain menampung tenaga kerja, produksi manisan itu juga menambah penghasilan petani," ujar Danang, suami Nova Indarmarsusi yang berprofesi sebagai akuntan itu.

DITANYA tentang perasaannya terpilih sebagai Pemuda Pelopor Jawa Timur, Danang yang berpenampilan sederhana dan kalem itu hanya menyatakan "bersyukur" dan berharap bisa menyumbangkan amal lebih banyak kepada para petani pamelo. Ia tetap yakin komoditas ini memiliki prospek sangat baik karena tidak ada saingannya. Peluang pasarnya pun masih sangat luas, baik pasaran dalam negeri maupun ekspor. Ditambah lagi nilai produksinya bisa 10-12 kali lipat dibanding tanaman lain di atas lahan yang sama.

Hasil dari satu hektar kebun keluarga Danang, misalnya, selama lima tahun terakhir bisa untuk membiayai keluarganya secara layak. Rumah besar warisan sang ayah yang kini ditinggali bersama ibu kandungnya tera wat dengan baik. Pada panenan tahun 2001, hasilnya dipakai untuk membangun rumah kakak Danang dengan biaya lebih dari Rp 200 juta. Keluarga ini juga memiliki dua mobil, untuk keperluan keluarga dan bisnis. "Semua itu hasil dari penjualan pamelo," tutur Danang sambil tertawa.

Pernyataannya tentang nilai produksi pamelo sampai 10-12 kali dibanding tanaman lain, dibenarkan tidak saja oleh Ir Arry Supriyanto MS, Kepala Loka Penelitian Tanaman, tetapi juga oleh beberapa petani pamelo di Kecamatan Takeran, Magetan.

Menurut Danang, tanaman pamelo mulai berbuah pertama pada tahun kelima setelah tanam. Namun, pada tahap itu sebaiknya jumlah buah dibatasi antara 10-20 buah per batang agar pohon tidak terganggu dalam memantapkan kekuatannya. Untuk tahun-tahun berikutnya, jumlah buah bisa ditingkatkan sedikit demi sedikit sehingga pada usia 15-10 tahun tiap pohon mampu menghasilkan sekitar 500 buah setiap panen. Ini jika perawatan tanaman dilakukan secara baik dalam pemupukan, pengobatan, mau pun pemberantasan hama.

Pamelo kualitas A & B pemasarannya sebagian besar ke kota-kota besar, seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, dan Denpasar (Bali). Bahkan, sebagian diborong eksportir untuk dijual ke Singapura, Hongkong, Belanda, dan beberapa negara Eropa. Di Magetan, Madiun, dan beberapa kota di Jawa Timur, umumnya hanya dipasarkan jeruk kualitas C & D, yaitu jeruk yang berukuran sedang/kecil dengan penampilan kurang menarik.

Berbekal kemauan dan ilmu yang ditimbanya di perguruan tinggi, Danang Sunarto kembali ke kampung untuk membangun desanya, sekaligus turut meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Ternyata dia berhasil dan merasa lebih senang dibanding hidup di Jakarta atau Malang. Negeri ini memang masih membutuhkan banyak sarjana yang mau mencintai dan membangun desanya. (JA NOERTJAHYO)

Diposting oleh petani berdasi

Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

...
Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.

Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).

Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.

Sepotong tempe goreng (50 gram) sudah cukup untuk meningkatkan mutu gizi 200 g nasi. Bahan makanan campuran beras-tempe, jagung-tempe, gaplek-tempe, dalam perbandingan 7:3, sudah cukup baik untuk diberikan kepada anak balita.

Asam Lemak

Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.

Dalam proses itu asam palmitat dan asam linoleat sedikit mengalami penurunan, sedangkan kenaikan terjadi pada asam oleat dan linolenat (asam linolenat tidak terdapat pada kedelai). Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif sterol di dalam tubuh.

Vitamin

Dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).

Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati (sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati. Kenaikan kadar vitamin B12 paling mencolok pada pembuatan tempe; vitamin B12 aktivitasnya meningkat sampai 33 kali selama fermentasi dari kedelai, riboflavin naik sekitar 8-47 kali, piridoksin 4-14 kali, niasin 2-5 kali, biotin 2-3 kali, asam folat 4-5 kali, dan asam pantotenat 2 kali lipat. Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe, tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiella pneumoniae dan Citrobacter freundii.

Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara 1,5 sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu hariannya.

Mineral

Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang cukup. Jumlah mineral besi, tembaga, dan zink berturut-turut adalah 9,39; 2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.

Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang akan menguraikan asam fitat (yang mengikat beberapa mineral) menjadi fosfor dan inositol. Dengan terurainya asam fitat, mineral-mineral tertentu (seperti besi, kalsium, magnesium, dan zink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.

Antioksidan

Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon. Seperti halnya vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.

Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dan genistein. Pada tempe, di samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II (6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri Micrococcus luteus dan Coreyne bacterium.

Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya proses penuaan dini.

Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, Amerika Serikat, menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen yang terdapat pada tempe ternyata dapat mencegah kanker prostat dan payudara.

Berikut ini cara membuat Tempe Skala rumah tangga :

1. siapkan kacang kedelai sebanyak 1 kg dan ragi tempe sebanyak 2 gram.

2. cuci bersih kacang kedelai dan rendam selama 24 jam.

3. setelah direndam selama 24 jam, kacang kedelai mekar. Mulailah meremas-remas kacang kedelai agar kulit arinya lepas.

4. Setelah bersih, tuangkan kacang kedelai ke dalam panci dan beri air secukupnya. Rebus kacang kedelai selama kurang lebih 30 menit. Selama kacang kedelai direbus akan muncul buih putih seperti gambar diatas ini.

5. Setelah direbus selama 30 menit, buang air yang tersisa di dalam panci. Kemudian, taruh kembali panci yang tinggal berisikan kacang kedelai diatas kompor. Aduk-aduk, jangan sampai hangus. Proses ini dilakukan untuk mengeringkan kacang kedelai. Jangan terlalu lama - karena kacang mudah hangus.

6. Tuang kacang kedelai ke wadah yang memudahkan kacang kedelai menjadi dingin.

7. Setelah dingin, taburkan ragi tempe sebanyak 2 gram dan aduk rata (bagi anda yang tinggal di Eropa, ragi tempe bisa didapatkan disini).

8. Siapkan plastik dengan ukuran sesuai selera. Masukkan kacang kedelai ke dalam plastik hingga ketebalan kira-kira 2-3 cm.

9. Tutup plastik (bisa dengan menggunakan lilin).

10. Kemudian lubangi plastik yang telah berisi kacang kedelai dengan menggunakan pisau (atau garpu) kira-kira 8 lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.

11. Simpan tempe didalam lemari. Alas yang dipakai untuk menyimpan adalah rak lemari es yang diganjal bagian bawahnya, sehingga ada sirkulasi udara. Diamkan selama kurang lebih 36 jam.

Perhatian : Menurut pengalaman seorang teman, untuk yang merantau di negara yang mengalami suhu dingin, tempe kadang dibalut dengan handuk, agar lebih hangat sebelum dimasukan ke dalam lemari.

12. setelah 36 jam, tempe siap diolah
Diposting oleh petani berdasi

WARUNG Bu Waji (50), yang berada di komplek Pelabuhan Karanggeneng, Desa Tasik Agung, Kecamatan Kota Rembang selalu ramai pengunjungnya. Karena, wanita empat anak itu menjual berbagai makanan khas daerah pantai, salah satu yang cukup dikenal adalah kelo mrico.

"Sekali makan kelo mrico Bu Waji, orang akan langsung ketagihan. Makanya warung ini tak pernah sepi pembeli," kata Kepala Bagian Humas Setwilda Drs Choirul Anwar, ketika sedang jajan di warung tersebut.

...

Laiknya kelo mrico buatan warga Rembang, kelo mrico Bu Waji juga menggunakan bumbu-bumbu yang mungkin tak bakal ditemui di daerah lain, khususnya yang jauh dari pantai. Menurut pengakuan ibu yang masih enerjik itu, bumbu kelo mrico cukup sederhana, yaitu jabe, kemiri, bawang, brambang, kunyit, laos, garam, daun jeruk, dan mrico. Sebagai penyedapnya harus diberi campuran ikan manyung atau sembilang yang masih segar. Ikan tersebut dipotong-potong, tanpa harus membuang kepalanya.

"Pada umumnya pembeli lebih suka kelo mrico kepala ikan, karena rasanya lebih sedap," kata Bu Waji.

Dia katakan, cara penyajian kelo mrico berbeda dengan masakan lain. Sebab semuanya harus disajikan dalam keadaan masih panas. Karena itu, kelo mrico yang sudah siap dijual harus tetap berada di atas tungku yang ada bara apinya. Untuk menjaga agar ikannya tidak menjadi bubur, maka harus dipisahkan dengan kuahnya.

Makanan ini sudah mendapat tempat di hati konsumennya. Pembelinya tidak terbatas dari daerah lokal saja. Banyak orang luar daerah, seperti Blora, Pati, Kudus, Semarang, bahkan Jakarta, bila sedang berada di Rembang selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung ini.

Popularitas makanan Bu Waji bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat umum. Menurut penuturannya, para pejabat Rembang juga sering jajan di warungnya. "Bila mereka kedatangan tamu dari daerah lain sering diajak mampir ke sini," kata Bu Waji.

Dua Pejabat

Ketika Suara Merdeka berada di warung itu, menjumpai dua pejabat yang sedang menikmati kelo mrico. Mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan Drs H Sadono beserta rombongannya, dan Kepala Bagian Humas Setwilda Drs Choirul Anwar.

Padahal, Sadono baru saja datang dari Makah. Namun karena kangen dengan masakan mrico, maka dia datang ke warung itu. "Sudah lama Mas, saya tidak ke sini," kata Sadono kepada Suara Merdeka.

Bu Waji mengaku, berjualan sejak tahun 1995. Awalnya dia membuka warung di dekat jembatan Sungai Karanggeneng. Namun tak lama kemudian kena gusur, karena ada proyek pengembangan pelabuhan. Akhirnya dia harus pindah di sebelah utara kantor Sahbandar.

Meski pindah tempat, warung Bu Waji terus diburu oleh pembeli. Dia mengaku, dari hasil jualannya itu bisa untuk makan dan menyekolahkan anak-anaknya, salah satunya sudah di perguruan tinggi.

"Setiap hari saya bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu-Rp1 juta. Tapi ini masih pendapatan kotor," katanya.(Djamal A Garhan-58)
Sumber : Suara Merdeka
Diposting oleh petani berdasi
Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved