SIANG yang panas dan terik. Di sebuah sudut jalan desa, mobil berpelat nomor polisi AD berhenti. Beberapa penumpang bergegas turun menuju sebuah warung berbilik bambu, yang berdekatan dengan kebun tebu. Di warung berdimensi 3 x 4 meter itu, mereka segera memesan sajian khas desa tersebut, lontong tuyuhan.
...

Marni (49), salah seeorang penjual lontong tuyuhan "Citra Rasa" menuturkan, Desa Tuyuhan yang terletak di jalur Lasem-Pamotan, semenjak tahun 80-an memang cukup terkenal dengan lontongnya. Mulai pukul 10.00-16.00, sepanjang jalan yang membelah perkebunan dan persawahan yang luas itu, puluhan warga mendirikan warung untuk berdagang lontong.

Awalnya, kata dia, lontong tersebut hanya dijajakan untuk para petani yang sedang menggarap sawah. Namun lambat-laun, karena semakin ramainya orang melintas jalur Lasem-Pamotan, akhirnya terkenalah lontong tersebut.

Lontong tuyuhan memang sangat khas. Berbeda dari lontong opor di daerah lain, lontong tuyuhan memiliki kekuatan pada kuah opornya yang benar-benar gurih dan daging yang empuk. Selain itu, lontong yang dibungkus daun pisang berbentuk segitiga tersebut juga dibikin dengan resep khusus, sehingga rasa dagingnya empuk dan lembut di mulut.

"Untuk membuat lontong ini, memerlukan keahlian khusus," ujar Marni. Lontong tuyuhan selalu diimbuhi dengan sedikit pandan, sehingga menimbulkan aroma nasi yang khas.

"Pandannya juga tidak boleh terlalu banyak. Agar rasa nasinya juga tetap terasa di lontong ini," tuturnya.

Selain lontong, opor ayam yang disajikan juga memiliki cara pemasakan yang khusus. Daging yang digunakan harus ayam kampung yang masih muda. Hal itu dimaksudkan agar daging yang dihasilkan lebih lembut. Selain itu, saat perebusan juga ditambahkan dengan bumbu-bumbu yang membuat daging terasa gurih.

Air Kendi

Selain hidangan lontong, pengunjung juga bisa menikmati segarnya air kendi selepas makan. Semua warung di sana memang masih mempertahankan air kendi sebagai minuman utama. "Namun beberapa di antaranya sudah menambah sajian air teh botol dan sebagainya," tuturnya.

Supardi (39), sopir mobil berpelat AD, saat mampir di warung lontong itu mengatakan, lontong tuyuhan selalu ngangeni siapa saja. Menurutnya, tidak lengkap rasanya saat berkunjung ke Lasem jika belum menyantap lontong tuyuhan.

"Bahkan keluarga saya tidak mau kalau ke Lasem malam-malam. Mereka minta saat siang sudah sampai di Lasem, biar bisa mampir ke Tuyuhan," ungkapnya.

Dia yang mengaku berjualan batik di daerah Sragen itu mengatakan, suasana saat makan lontong tuyuhan juga merupakan salah satu alasan yang membuatnya selalu berkunjung setiap waktu.

Dia menceritakan, pemandangan daerah sekitar Desa Tuyuhan dengan kebun tebu ataupun sawah di musim penghujan, membuatnya seperti makan di tengah-tengah sawah. "Suasana makan di tengah perkebunan dan persawahan yang asri seperti ini selalu menimbulkan nafsu makan yang besar," ujarnya seraya tertawa kecil.

Sesaat kemudian, Supardi yang berangkat bersama tiga anggota keluarganya langsung larut menikmati sajian lontong tersebut. Mereka seakan tak peduli, panas yang terik berdebu siang itu membuat tubuh mereka berkeringat. "Kalau sudah makan enak begini, mertua lewat juga tidak dihiraukan," selorohnya. (Mulyanto Ari Wibowo-15s)
Sumber : Suara Merdeka
Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved