Rabu, 04 Maret 2009 di 02.37 |  

Pernah dengar RT/RW net? itu loh salah satu ide cemerlang pak Onno W Purbo dalam memasyarakatkan internet mengunakan frekuensi 24 ghz yang dulu dipermasalahkan. Karena tidak menggunakan jalur telepon maka rt/rw net cenderung lebih murah, dan diharapkan dapat diakses oleh lebih banyak lapis masyarakat. Akses yang mudah dan murah itu adalah kata kuncinya, perpustakaan juga bisa begitu, bahkan saya bermimpi ada perpustakaan kecil-kecil yang dikelola oleh masyarakat selingkup RT atau RW.

...

Mengapa perpustakaan? kenapa bukan sesuatu yang lebih berguna? begitu mungkin pertanyaan yang akan kerap muncul. Mungkin akan saya jawab dengan pertanyaan lagi, apakah perpustakaan tidak penting?. Perpustakaan menjadi berguna bila masyarakat disekelilingnya memiliki rasa pemilikan yang tinggi. Sebenarnya pertanyaan di atas wajar saja mencuat mengingat bagaimana tanggapan kebanyakan orang terhadap perpustakaan sampai sekarang kurang begitu menghargai.

Walaupun sebenarnya yang terjadi antara masyarakat Indonesia dan perpustakaan adalah hubungan benci tapi rindu, atau jinak-jinak merpati. Bagaimana tidak, di sisi lain (semua) orang mengakui kebutuhannya pada perpustakaan, namun di sisi lain perpustakaan hampir-hampir mati kesepian ditengah hiruk-pikuk, akibat ketidakpedulian tentunya, memang apa lagi?

Seperti hujan di tengah Gurun Sahara ada saja satu dua tetes air membasahi kerongkongan yang dahaga, maraknya taman bacaan misalnya atau sesuatu yang miriplah bila tidak ingin disamakan dengan taman bacaan. Sebut saja Rumah Dunia yang dicetuskan oleh Gola-Gong di Banten sana, dengan target pembaca anak-anak tampaknya mereka cukup berhasil dengan program-programnya. Rumah Dunia cukup membasahi dahaga akan ilmu bagi anak-anak sekitarnya.

Tapi bagaimana bila dikembangkan tidak lagi untuk anak-anak namun juga untuk bapak-bapak atau aki-aki pensiunan yang mungkin sudah tidak ada kerjaan berarti? bagaimana kalau libatkan mereka membangun perpustakaan RT/RW di daerah sekitar mereka, tampaknya ide yang lumayan bukan? sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri diantara para sepuh, mengatasi post power syndrome juga memberikan masyarakat sekitarnya dengan ilmu-ilmu yang positif. Kenapa aki-aki? karena mereka mempunyai waktu cukup dan membangun perpustakaan sederhana tidak begitu sulit.

Tentunya program perpustakaan RT/RW juga disesuikan pada lingkungan sekitar, mengingat bukan lagi anak-anak yang menjadi target. Program perpustakaan RT/RW tentunya akan lebih nikmat bila dirancang ramai-ramai oleh warga sekitar sejak awal. Dari bagaimana mengumpulkan serta memanfaatkan koleksinya, dan yang paling penting adalah menghadirkan perpustakaan RT/RW yang mudah dan murah.

Connecting the dot...dari satu perpustakaan menjadi dua lalu menjadi sepuluh dan akhirnya berlipat-lipat. Siapa tahu, perpustakaan yang dipandang sebalah mata tadinya akan menjadi salah satu agen perubahan bangsa ini. Membuat orang kito lebih melek dengan kesempatan untuk lebih maju baik....yaa maju budayanya maju ekonominya, pastinya.

Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved