Senin, 02 Maret 2009 di 00.45 |  

WARUNG Bu Waji (50), yang berada di komplek Pelabuhan Karanggeneng, Desa Tasik Agung, Kecamatan Kota Rembang selalu ramai pengunjungnya. Karena, wanita empat anak itu menjual berbagai makanan khas daerah pantai, salah satu yang cukup dikenal adalah kelo mrico.

"Sekali makan kelo mrico Bu Waji, orang akan langsung ketagihan. Makanya warung ini tak pernah sepi pembeli," kata Kepala Bagian Humas Setwilda Drs Choirul Anwar, ketika sedang jajan di warung tersebut.

...

Laiknya kelo mrico buatan warga Rembang, kelo mrico Bu Waji juga menggunakan bumbu-bumbu yang mungkin tak bakal ditemui di daerah lain, khususnya yang jauh dari pantai. Menurut pengakuan ibu yang masih enerjik itu, bumbu kelo mrico cukup sederhana, yaitu jabe, kemiri, bawang, brambang, kunyit, laos, garam, daun jeruk, dan mrico. Sebagai penyedapnya harus diberi campuran ikan manyung atau sembilang yang masih segar. Ikan tersebut dipotong-potong, tanpa harus membuang kepalanya.

"Pada umumnya pembeli lebih suka kelo mrico kepala ikan, karena rasanya lebih sedap," kata Bu Waji.

Dia katakan, cara penyajian kelo mrico berbeda dengan masakan lain. Sebab semuanya harus disajikan dalam keadaan masih panas. Karena itu, kelo mrico yang sudah siap dijual harus tetap berada di atas tungku yang ada bara apinya. Untuk menjaga agar ikannya tidak menjadi bubur, maka harus dipisahkan dengan kuahnya.

Makanan ini sudah mendapat tempat di hati konsumennya. Pembelinya tidak terbatas dari daerah lokal saja. Banyak orang luar daerah, seperti Blora, Pati, Kudus, Semarang, bahkan Jakarta, bila sedang berada di Rembang selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung ini.

Popularitas makanan Bu Waji bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat umum. Menurut penuturannya, para pejabat Rembang juga sering jajan di warungnya. "Bila mereka kedatangan tamu dari daerah lain sering diajak mampir ke sini," kata Bu Waji.

Dua Pejabat

Ketika Suara Merdeka berada di warung itu, menjumpai dua pejabat yang sedang menikmati kelo mrico. Mereka adalah Kepala Dinas Pendidikan Drs H Sadono beserta rombongannya, dan Kepala Bagian Humas Setwilda Drs Choirul Anwar.

Padahal, Sadono baru saja datang dari Makah. Namun karena kangen dengan masakan mrico, maka dia datang ke warung itu. "Sudah lama Mas, saya tidak ke sini," kata Sadono kepada Suara Merdeka.

Bu Waji mengaku, berjualan sejak tahun 1995. Awalnya dia membuka warung di dekat jembatan Sungai Karanggeneng. Namun tak lama kemudian kena gusur, karena ada proyek pengembangan pelabuhan. Akhirnya dia harus pindah di sebelah utara kantor Sahbandar.

Meski pindah tempat, warung Bu Waji terus diburu oleh pembeli. Dia mengaku, dari hasil jualannya itu bisa untuk makan dan menyekolahkan anak-anaknya, salah satunya sudah di perguruan tinggi.

"Setiap hari saya bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu-Rp1 juta. Tapi ini masih pendapatan kotor," katanya.(Djamal A Garhan-58)
Sumber : Suara Merdeka
Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved