Siapa bilang tahanan itu menyebalkan? Di Rumah Tahanan (Rutan) Medaeng, hiburan justru cukup berlimpah. Seminggu sekali, tiap Sabtu siang, ada pentas dangdut. Ini biasa disebut “orkesan” atau “goyang cadong”. Nama terakhir ini diadopsi dari nama jatah makanan untuk para tahanan dan napi, yaitu “nasi cadong” .

Orkesan atau goyang cadong itu dimeriahkan oleh bintang tamu dan penyanyi home grown alias para penghuni rutan sendiri. Acara selalu dimulai sekitar pukul 13.10 dan berakhir menjelang maghrib. Begitu selama bertahun-tahun. Layaknya bintang papan atas, para artis lokal ini tidak segan-segan turun dari panggung dan mendatangi penonton yang asyik berjoged di lapangan.
...
Tentu orkesan bukan satu-satunya hiburan yang ada. Rutan Medaeng juga menyelenggarakan pemutaran film, pentas band, juga elekton seminggu sekali. Bagi yang hobi olahraga, pilihannya juga banyak. Ada senam aerobik, voli, tenis meja, bulutangkis, juga futsal. Mereka yang lebih suka keterampilan, bisa gabung di kursus salon kecantikan, pertukangan kayu, bengkel las, sablon, dan sejumlah bentuk lainnya.

Meski banyak aktivitas yang bisa diikuti, tetap saja orkesan yang paling ditunggu. Bukan cuma untuk mendapat hiburan, tetapi juga sebagai patokan kapan si warga binaan akan menghirup udara bebas, lepas dari belenggu dan kembali ke keluarganya.

“Jika ada temannya bertanya kapan seorang napi atau tahanan bebas, dia bisa menjawab, ‘kurang tiga orkesan tok’. Itu artinya tinggal tiga minggu ke depan,” kata Kepala Rutan Medaeng, Slamet Prihantara.

Nah, soal orkesan ini, saya punya cerita konyol. Ini dialami seorang teman dari Blok B. Saya tidak tahu nama aslinya, tetapi dia populer dengan sebutan “kojek”. Pria yang terjerat kasus perampokan itu paling demen orkesan. Dia tidak pernah absen naik ke pentas. Bukan untuk menyanyi, tetapi berjoged ria mendampingi sang artis.

Sudah menjadi tradisi, siapa pun yang naik ke pentas untuk menyanyi atau berjoget, maka harus merogoh kantong, mengeluarakan beberapa lembar uang untuk disawerkan kepada si artis. Kojek juga royal untuk urusan sawer menyawer tadi. Setiap orkesan, bisa 100 atau 200 ribu rupiah dia keluarkan.

Pada acara orkesan yang kesekian, Kojek cengar-cengir didampingi dua artis berpakaian seksi. Suasana bertambah meriah ketika tiba-tiba Jhon Kei (preman asal Ambon yang paling disegani itu) ikut naik ke pentas bersama Azis Boros (juga preman beken asal Surabaya).

Apa yang terjadi kemudian?

Seorang wartawan surat kabar harian yang kebetulan ada di Medaeng mengambil gambar acara orkesan itu. Keesokan harinya, muncul berita disertai foto. Di sana, sosok Kojek terlihat jelas berjoget ria.

“Mampus aku, anakku marah-marah melihat foto di koran. Kenapa tidak kasih tahu kalau ada wartawan?” Kojek gusar dengan nada protes pada saya.

“Anakku bilang, kelakuan papa kok pancet ae (tetap saja). Di luar dan di dalam penjara tidak ada bedanya. Saya kira papa di dalam penjara menderita, hidupnya susah, ternyata di sana bersenang-senang. Masak tidak kasihan pada mama yang setiap hari susah mengurus kami, tiap hari mencari uang untuk papa, eh ternyata uangnya untuk hura-hura,” Kojek meniru protes anaknya.

Karena peristiwa itu, Kojek sempat tidak dikunjungi dua minggu.

“Memang di penjara harus selalu menderita? Tidak boleh senang walau sedikit?” protes Kojek entah kepada siapa.

Hal berbeda dialami kawan saya yang wanita. Dia justru ngebet banget minta difoto. Saat menyanyi di atas pentas, saat main voli, juga saat menjalani pelayanan di gereja. Untuk apa?

“Saya akan kirim ke keluarga saya,” tegasnya. “Dulu mereka sedih dan khawatir akan kondisi saya di dalam penjara. Setelah saya kasih foto, mereka menjadi tenang, tidak terlalu sedih dan khawatir karena ternyata di dalam penjara masih ada hiburan dan banyak kegiatan seperti di luar tembok penjara,“ urainya.

Apa yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas?

Bahwa citra buram penjara sebagai tempat penyiksaan, sangkar bagi pesakitan masih saja melekat dalam pemahaman masyarakat umum. Padahal, sejak 27 April 1964, penjara sudah tidak ada dan diganti lembaga pemasyarakatan. Narapidana bukan lagi pesakitan melainkan warga binaan.

Dulu sangkar, kini menjadi sanggar dimana para terpidana selama menjalani kukuman tetap diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Mendapat pembinaan, menjalani pendidikan dan bimbingan untuk bekal kembali ke masyarakat. Semoga.
Sumber : Surabaya Post
Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved