Rabu, 25 Februari 2009 di 21.17 |  

BEGITU memasuki halaman belakang sebuah rumah asri yang terletak di Jalan Cilengkrang I, Desa Cisurupan, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat (Jabar), seorang pria setengah baya terlihat mengusung sebuah karung berisi jerami untuk makan ternak dan meletakkannya di dekat pintu penghubung pekarangan itu dengan rumah induk. "Mangga atuh, Neng," sapa pria itu.
...

Pekarangan itu tidak dibiarkan kosong sejengkal pun. Di bagian samping, terdapat puluhan bibit aneka tanaman. Sebuah kandang ayam dibangun hingga menutupi sebagian kolam ikan nila. Di depannya, terdapat sejumlah kambing garut dan sapi. Di sisi lain pekarangan, terdapat tiga bilik bambu. Dua kamar dijadikan tempat menginap para tamu atau siswa yang magang, sisanya dipakai sebagai tempat budidaya tanaman jamur.

Di tengah halaman itu, terdapat sebuah pendopo kecil dari bambu. "Di pendopo ini, saya bersama dengan kelompok tani desa ini biasa berkumpul. Kami juga berbagi pengalaman dengan siapa saja yang ingin belajar tentang pertanian. Biar berlokasi di gubuk, yang penting kan ilmunya bisa masuk," ujar Sutisna (50), penerima penghargaan Satyalencana Wirakarya tahun lalu itu.

Keaktifannya di Kontak Tani dan Nelayan Nasional (KTNA Nasional) sejak dua tahun lalu membuat pergaulannya makin luas. Pada tahun 2002 Sutisna terpilih sebagai sekretaris jenderal (sekjen) di organisasi itu sehingga ia harus mengunjungi beragam acara petani di sejumlah provinsi di Indonesia.

"Para petani harus mandiri, tidak boleh tergantung pada pemerintah, pupuk, dan obat-obatan. Jadi, kami harus membangun jaringan di antara kami sendiri untuk saling berbagi pengalaman, sekaligus memperkuat posisi tawar kami jika ada masalah seperti saat pupuk langka," kata Sutisna.


***
IA lahir di Sumedang, 12 Maret 1952, dari keluarga petani, pasangan Tanu dan Dasti. "Saya lahir dari keluarga petani. Sejak kecil sudah biasa membantu orangtua bercocok tanam. Saya belajar dari orangtua saya. Mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya dari sepetak kebun jeruk," ujar Sutisna bangga.

Setelah menamatkan sekolahnya di sekolah teknik menengah (STM) jurusan bangunan, ia menikah dengan Ai Mulyani, perempuan Sunda kelahiran 6 Maret 1955. Kemudian, pasangan muda itu memilih untuk menetap di Desa Cisurupan, Bandung, yang terletak di lereng Gunung Manglayang, Bandung Utara. Bermodalkan sepetak lahan, pasangan itu memutuskan untuk terjun sebagai petani.

Pada tahun 1989, Desa Cisurupan mengalami kekeringan. Akibatnya, banyak petani berebut air yang seringkali dimenangi para petani yang kuat fisik dan materi. "Saya ajak mereka berkumpul di rumah ini untuk membicarakan masa depan desa ini. Akhirnya, kami sepakat membentuk kelompok tani yang beranggotakan 40-an orang. Masalah air pun terpecahkan. Kami mulai menerapkan sistem giliran mendapat air untuk irigasi sawah," ujarnya.

Ketika harga gabah di pasaran anjlok, para petani desa itu pun mengalami kerugian besar-besaran. Akhirnya, Sutisna mendapat gagasan untuk menanami lahannya dengan sayuran. Ketika pendapat itu dikemukakan di dalam pertemuan kelompok tani, hal itu ditolak sebagian besar petani karena mereka belum pernah mencoba menanam sayuran dan terbiasa dengan menanam palawija.

Akhirnya, bersama dengan istrinya, ia nekat menanami lahannya dengan sayur-mayur seperti tomat dan bayam. "Kalau mencoba sesuatu yang baru, harus mau jadi kelinci percobaan. Jadi, kami putuskan mulai menanam sayuran. Alhamdulillah, hasil panen kami diborong pedagang dari pasar di Semarang. Mungkin Tuhan tahu niat kami baik. Setelah itu, baru petani sini ramai-ramai menanam sayuran," ujar Ketua Kelompok Tani "Jaya Makmur" itu.

Sejak itu, tempat tinggal pasangan Sutisna dan Mulyani menjadi tempat berkumpul para petani di daerah tersebut. Bahkan, pekarangan di belakang rumah mereka menjadi lahan percobaan untuk mencoba berbagai tanaman, pembibitan, budidaya jamur, maupun tempat belajar bertani mahasiswa maupun warga masyarakat lain.

"Pekarangan kami ibarat showroom. Ternak unggulan maupun tanaman kami dapat dilihat di sini. Kalau ada pembeli tertarik, baru kami bawa ke pusat peternakan dan lahan pertanian desa kami. Biasanya, bibit ternak yang ada di sini cepat laku karena mereka sudah tahu saya," tambah Sutisna.

Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membolehkan para petani membentuk koperasi pada tahun 1998, angin segar itu disambut Sutisna dan teman-temannya sesama petani. "Kami segera membuat koperasi petani yang terdiri dari belasan kelompok tani di Bandung. Koperasi kami ini melayani simpan-pinjam dan menyediakan prasarana pertanian seperti pupuk dan traktor. Sejak berdiri, tidak pernah ada kredit macet dari anggota," ujarnya bangga.

Seiring dengan keaktifannya sebagai ketua koperasi petani, nama Sutisna makin dikenal di kalangan petani Jabar. Berbagai jabatan pun harus diembannya seperti Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) "Jaya Makmur", Wakil Ketua HKTI Kota Bandung, sampai dengan Sekretaris Jenderal (sekjen) KTNA Nasional.

Kini, lahan pertanian seluas dua hektar miliknya banyak ditangani istrinya dibantu keenam putranya, Budi Sutrisman (29), Robi Suhendar (27), Gugum Gumbira (25), Beni Komara (21), Riki Wahyudi (18), dan Ruli Aditia (12). "Beruntung semua anak kami mau bertani meski mereka kuliah sampai perguruan tinggi. Anak kami yang jadi sarjana ekonomi pun punya kebun di rumahnya," kata Sutisna sambil tersenyum.


***
KESADARAN untuk melaksanakan pertanian berwawasan lingkungan membuat Sutisna beserta Kelompok Tani "Jaya Makmur" memilih untuk meminimalisir pemakaian pupuk urea. "Sejak tahun 1989 kami memilih tidak menggunakan pestisida untuk tanaman kami, khususnya padi. Selain itu, kami juga lebih suka memberi pupuk kandang pada tanaman kami dan memberi jerami kepada hewan ternak kami. Jadi, tidak ada yang terbuang dalam sistem pertanian kami," tandas Sutisna.

Tanpa gembar-gembor, Desa Cisurupan, salah satu pusat peternakan sapi di Jabar, telah merintis sistem pertanian organik sejak sepuluh tahun lalu. Mereka juga lebih suka membajak sawah dengan kerbau, bukan traktor. "Lahan kami sempit, jadi kami lebih suka menggunakan kerbau untuk membajak sawah. Kegemburan tanah juga lebih terjaga."

Mereka juga memelihara ketersediaan air untuk PDAM Kota Bandung dengan menjaga mata air yang ada di desa itu. "Kami menjaga agar air di desa ini tidak dikuras habis-habisan. Untuk itu, saat kemarau, pengairan sawah kami dilakukan dengan cara bergilir. Jadi, warga Bandung tidak akan kekurangan air bersih," katanya.

Kepeduliannya pada lingkungan membuat Sutisna terlibat dalam penghijauan kawasan Gunung Manglayang, Bandung Utara, pada tahun 1977. Bersama dengan penduduk setempat, ia turut menghijaukan lereng Gunung Manglayang seluas sekitar 1.000 hektar yang lokasinya meliputi Kecamatan Cileunyi, Ujung Berung, sampai dengan Cijebug di Kecamatan Cicadas.

Saat ini, ia tengah mempersiapkan penghijauan Gunung Manglayang. Untuk itu, ia sedang melakukan pembibitan tanaman melinjo. "Warga sekitar gunung yang menanam melinjo akan menghijaukan Gunung Manglayang sekaligus memperoleh penghasilan. Nantinya, warga sendiri yang menjaga hutan di gunung itu dari penjarahan dan pembakaran hutan untuk lahan pertanian atau permukiman," tambah Sutisna. (T05)
Sumber : Kompas / Nama dan Peristiwa
Diposting oleh petani berdasi

0 komentar:

Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved