Kamis, 20 Agustus 2009
di
09.33
|
0
komentar
Diposting oleh
petani berdasi
|
|
|
||||
|
Kamis, 30 Juli 2009
di
20.39
|
0
komentar
![]() Oleh HENDRIYO WIDI
Sehari-hari Kusaeri Yusuf Sudarno adalah guru di Sekolah Dasar Dresi Wetan, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun, di luar tugasnya itu dia prihatin dengan semakin habisnya generasi pendongeng di Rembang. Kusaeri cemas dongeng-dongeng rakyat Rembang akan musnah. Pasalnya, banyak pendongeng di Rembang yang meninggal dunia atau telah berusia di atas 65 tahun. ”Kemungkinan besar mereka akan bertahan satu dasawarsa lagi. Selama waktu itu pula usia mereka terus menua hingga tak mampu lagi mendongeng,” kata Kusaeri. Untuk itulah, Kusaeri berinisiatif mengumpulkan dongeng-dongeng dari 294 desa yang termasuk dalam 14 kecamatan di wilayah Kabupaten Rembang. Dongeng-dongeng itu lalu dia tulis dan dikumpulkan dalam dua jilid buku berjudul Dongeng Rakyat Kabupaten Rembang. Buku jilid pertama hasil karyanya tersebut setebal 182 halaman berisi 25 dongeng. Adapun buku jilid kedua setebal 193 halaman dengan 23 dongeng. Penulisan buku dongeng itu tak mudah baginya. Meski Kusaeri sudah mulai menulis buku tentang berbagai bidang, terutama yang berkaitan dengan bahasa Jawa sejak tahun 1974. ”Kesulitan itu dimulai dari menemukan generasi tutur yang masih fasih bercerita tentang dongeng-dongeng di desa masing-masing,” katanya. Namun, berkat bantuan dari sejarawan di Rembang, seperti Slamet Wijaya dan Sigit Wicaksono, dongeng-dongeng rakyat itu bisa terkumpul. ”Saya juga mendapat banyak informasi tentang dongeng rakyat dari para tokoh masyarakat di 14 kecamatan itu. Mereka masih bisa mengingat dongeng yang sering dikisahkan para orangtua dulu,” katanya. Dongeng rakyat tersebut umumnya berkisah tentang asal-usul suatu daerah atau desa dengan beragam adat dan budayanya. Terkadang dongeng juga masuk dalam ranah sejarah. Di Rembang, dongeng yang berkembang umumnya berkaitan dengan Kerajaan Majapahit, Mataram masa Islam, dan Demak. ”Semula terkumpul 108 cerita rakyat. Namun, setelah diteliti lagi, ada kisah-kisah yang mirip. Jadi, saya gabungkan saja kisah-kisah (yang mirip) itu,” tutur Kusaeri, yang untuk menuliskan kembali dongeng rakyat Rembang itu memerlukan waktu sekitar enam bulan. Makna cerita Setiap cerita dalam buku Dongeng Rakyat Kabupaten Rembang yang beredar mulai Juni 2009 mengandung makna untuk kehidupan kita. ”Ternyata dongeng itu bisa menjadi ’kaca benggala’, teladan yang berguna selama kita hidup di dunia,” tutur Kusaeri. Dia lalu mencontohkan dongeng Si Kancil, yang para tokohnya menggambarkan berbagai sifat baik dan buruk dari manusia. ”Sifat baik dan buruk itu digambarkan lewat karakter berbagai binatang. Ini tentunya lebih menarik untuk anak-anak.” Kusaeri lalu bercerita tentang berbagai dongeng rakyat Rembang, seperti Legenda Mbah Sarah, Bende Becak Sunan Bonang, dan Putri Cempa. ”Dongeng itu membuat imajinasi anak-anak berkembang. Dengan mendengarkan atau membaca dongeng, anak bisa menghadirkan tokoh-tokoh dan jalinan alur cerita itu dalam imajinasi masing-masing,” kata Kusaeri. Pengalaman Kusaeri sebagai guru sejak tahun 1972 membuat dia menyadari bahwa pembelajaran lebih efektif apabila disampaikan dengan cara yang menarik. Dia memilih mendongeng ketika melihat para siswa merasa ”berat” menerima pelajaran. ”Untuk mengusir kebosanan siswa di kelas, saya suka mendongeng. Cara ini ternyata berhasil membuat siswa kembali memerhatikan pelajaran,” katanya. Terbiasa dengan dongeng Kusaeri lahir di Desa Jambangan, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang. Ayahnya adalah seorang petani, sedangkan sang bunda menjadi ibu rumah tangga. Namun, sejak kecil dia sudah akrab dengan dunia dongeng. ”Sebelum tidur biasanya bapak, atau ibu, kadang juga kakek atau nenek kami, suka mendongeng. Mereka menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan ini secara tidak langsung, lewat dongeng,” kata Kusaeri mengenang. Tanpa sadar, dongeng-dongeng masa kecil itu tetap diingatnya sampai dewasa. Kusaeri tak lagi akrab dengan dongeng ketika duduk di sekolah menengah pertama hingga menjadi siswa sekolah pendidikan guru atau SPG di Rembang. Selulus dari SPG pada tahun 1972 dia menjadi guru Bahasa Jawa. Selain mengajar, ia juga menambah pengetahuan dengan belajar di berbagai perguruan tinggi swasta. Dua tahun setelah mengajar, tahun 1974, Kusaeri mulai menulis artikel dan cerita pendek. Dia menulis berbagai bidang yang diminatinya, mulai dari masalah kebudayaan, agama, sampai yang berkaitan dengan tugasnya sebagai guru Bahasa Jawa. Kusaeri kemudian mengirimkan tulisan-tulisan analisisnya tentang berbagi bidang itu ke media massa. Jadi selama beberapa tahun dia juga menjadi penulis dan pengisi kolom untuk majalah Srikandi di Kabupaten Rembang dan majalah Swadesi yang beredar di wilayah Jateng. Bahasa Jawa Seiring berjalannya waktu, dunia tulis-menulis semakin lekat dengan Kusaeri. Dia kemudian juga menulis buku-buku, terutama yang menyangkut bahasa Jawa, mulai dari aksaranya sampai soal tata krama. Kusaeri menggarisbawahi tata krama sebagian generasi masa kini. Menurut dia, belakangan ini tata krama yang lekat dengan kebudayaan Jawa semakin ditinggalkan. Kusaeri memberi contoh tentang kebiasaan untuk permisi saat orang muda hendak berjalan melewati orang tua atau kebiasaan berbahasa Jawa kromo (halus) kepada mereka yang berusia lebih tua. ”Dulu, kalau kita berjalan melewati orang yang lebih tua, pasti permisi, nyuwun sewu.... Kalau orang muda berbicara dengan mereka yang lebih tua usianya, yang digunakan adalah bahasa Jawa kromo bukan ngoko,” tuturnya. ”Semua itu sudah ditinggalkan sejak 1980-an. Unggah-ungguh atau tata krama anak-anak kita terus terkikis. Mereka tidak lagi dapat membedakan dan memperlakukan mana yang teman dan mana orang tua,” lanjut Kusaeri. Kembali tentang buku dongengnya, Kusaeri yakin lewat dongeng, selain tuntunan hidup itu bisa diwariskan kepada generasi penerus, kaum muda juga bisa belajar sejarah. ”Lewat dongeng tentang kejayaan kerajaan-kerajaan masa lalu, misalnya, bisa membuat kaum muda makin kuat nasionalismenya. Ini bisa melengkapi sisa-sisa kejayaan itu yang bisa dilihat secara fisik lewat punden, patung, candi, dan sebagainya,” kata Kusaeri. BIODATA • Nama: Kusaeri Yusuf Sudarno • Lahir: Rembang, Jawa Tengah, 6 April 1954 • Istri: Sasti Jamilah • Anak: Mulyono Agung Pambudi (15) • Pendidikan: - SD Negeri Sarang, Rembang - SMP Negeri Rembang - SPG Rembang - IKIP PGRI Tuban - Universitas Islam Malang - IKIP PGRI Veteran Semarang • Pekerjaan: Guru SD Dresi Wetan, Kecamatan Kaliori, Rembang • Penghargaan: - Juara I Lomba Menulis tentang Sumber Daya Laut tingkat Guru SD se-Jawa Tengah, 2000 - Juara I Lomba Mata Pelajaran Mengarang Guru tingkat Nasional 1995/1996 - Penghargaan Widya Bhakti Upa Pradana, 1996 • Karya antara lain: - Dongeng Rakyat Kabupaten Rembang - Mengenal Riwayat Hidup Rasulullah Muhammad SAW - Gulat Pathol dari Sarang Sumber: Kompas, Sabtu, 18 Juli 2009
Diposting oleh
petani berdasi
Senin, 27 Juli 2009
di
05.12
|
0
komentar
BILA ingin merasakan salah satu masakan ”kelangenan” di dekat perbatasan Kudus-Purwodadi, warung burung sawah goreng milik Muntirah (50), dapat menjadi salah satu ”jujugan”. Pembeli akan merasakan sensasi aneka burung liar ditambah sambal dan nasi kebul-kebul. Usaha yang dirintis orang tuanya pada 1965 itu memang menawarkan sesuatu yang lain. Menurut sang empunya warung, setiap hari setidaknya 100 ekor burung laris terjual. ”Kalau sedang ramai, dapat menggoreng hingga 200 ekor burung,” tandasnya. Jenis burung yang disediakan cukup beraneka ragam. Selain teluk, blekek, ada pula yang memesan burung belibis. Persoalannya, bahan baku masakan ”mak nyos” itu terkadang sulit dicari.”Terutama saat musim kemarau. Maklum, burung tersebut bukan diternakkan, melainkan hidup liar di alam bebas. Biasanya, mereka memilih tinggal di lokasi yang ada airnya,” ungkapnya.Soal harga, tidak perlu menguras kocek terlalu dalam. Bila menginginkan teruk, seekor yang sudah siap santap harganya Rp 10.000, blekek Rp 5.000, dan belibis Rp 20.000.”Bila ada pejabat yang sedang meninjau Undaan, sering mampir ke warung saya,” katanya bangga.Getok Tular Rupanya, promosi getok tular itu cukup ampuh. Buktinya, selain kedatangan pelanggan dari kalangan umum hingga ”ndara agung”, dia juga mengaku sering menerima pesanan. ”Mereka biasa menelepon dan pesan burung goreng jenis tertentu,” paparnya.Setiap hari, warung tersebut selalu dijejali pembeli. Karena itu, jika tidak ingin kehabisan lebih baik pesan tempat dulu. Maklumlah, meski tak pernah memasang iklan di media, namun warung Bu Mun tidak pernah sepi dari pelanggan. “Awalnya saya hanya membantu ibu saya, dan akhirnya saya mempelajari resepnya meneruskan usaha ini hingga sampai sekarang,” kata Tumisih (39), penerus dan pengelola warung makan tersebut. Disinggung soal isu flu burung yang sempat merebak beberapa waktu lalu, dia menyatakan tidak ada pengaruhnya. Pasalnya, jumlah pembeli tidak banyak berubah meski ada pemberitaan mengenai penyakit tersebut. ”Sepertinya tidak ada masalah, tidak ada pengaruhnya,” ungkapnya.Yang jadi persoalan justru ketika pasokan burung menurun. Jika sedang sepi, dia terpaksa banting setir menggantinya dengan ayam. Hal tersebut biasanya terjadi pada bulan Agustus saat burung liar sulit didapat. ”Burung dipasok pelanggan dari beberapa daerah di Grobogan dan Demak,” paparnya. Salah seorang pembeli, Atok, mengaku secara periodik mengunjungi warung tersebut. Meski saat ini sudah banyak variasi kuliner, sensasi burung liar goreng itu tidak pernah dilewatkannya. ”Iwak manuk, tetep mathuk...” akunya. (71) Sumber : Suara Merdeka Muria
Diposting oleh
petani berdasi
Selasa, 23 Juni 2009
di
19.42
|
0
komentar
PATI - Sesepuh masyarakat adat Sedulur Sikep Mbah Tarno, Selasa (23/6) pukul14.00, meninggal dunia. Pemakaman secara adat dilakukan hari ini (24/6) pukul 10.00 di makam keluarga, dekat kediamannya Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati.Seorang kerabatnya, Gunritno mengemukakan, Mbah No, begitu sesepuh Sedulur Sikep itu akrab dipanggil, tidak mengidap penyakit tertentu. Hanya dalam dua hari terakhir sebelum meninggal, kondisi kesehatannya memburuk. ’’Esok mau wis apik. Ora duwe penyakit apa-apa, yo amargo wis sepuh ae,’’ kata Gunritno. Seperti masyarakat muslim kebanyakan, malam hari dilakukan lek-lekan. Sebelum pemakaman juga dilakukan upacara adat sebagai penghormatan terakhir. ’’Sedulur Sikep Blora lan liyane diwenehi ngerti kabeh,’’ ucap Gunritno yang juga mengaku menyampaikan informasi kepada komunitas masyarakat adat di luar Jawa Tengah, seperti Kanekes. Sejauh ini, Mbah Tarno bukan hanya dikenal oleh kalangannya. Sejumlah pejabat kerap mampir danmenemuinya untuk sekadar bersilaturahmi atau meminta dukungan dalam berbagai hal, termasuk saat masyarakat ramai menolak rencana pendirian pabrik semen di Sukolilo, Mbah Tarno dikunjungi Gubernur Bibit Waluyo, Bupati Pati Tasiman, serta jajaran direksi PT Semen Gresik. Di mata Sedulur Sikep, Mbah Tarno menjadi acuan dalam setiap langkah dan perilaku sehari-hari. Setiap ada persoalan, warga Sedulur Sikep yang bermukim di Pati, Kudus, dan Blora tak lepas meminta wejangan darinya. Mbah Tarno tutup usia pada usia 100 tahun. Dia meninggalkan tujuh anak dan 27 cucu yang saat ini tinggal tak jauh dari kediamannya. (H49-69)
Diposting oleh
petani berdasi
Kelinci, selain lucu sebagai binatang piaraan, ternyata juga sangat lezat untuk dikonsumsi sekaligus menyehatkan serta bahan obat untuk penyakit asma.BERBURU makanan enak di Surabaya memang tak akan pernah ada habisnya. Bahkan semakin hari, terus bertambah saja tempat-tempat makan di penjuru kota yang menawarkan berbagai menu khas. Salah satunya yang masih tergolong baru dan tidak banyak bisa dijumpai di tempat makan lain (resto, depot, warung, lesehahan) adalah sate kelinci. Selama ini, sate kelinci oleh sebagian penikmatnya baru bisa didapat di daerah-daerah berudara dingin atau pegunungan, seperti Malang maupun Pandaan. Namun seiring mewabahnya informasi kuliner di masyarakat, kini jauh dari pucuk gunung pun, seperti di Surabaya, sate kelinci dapat dinikmati dengan cita rasa istimewanya. Seperti pengalaman VENUS ketika berakhir pekan dengan jalan-jalan di seputaran Surabaya untuk menyantap kelezatan daging kelinci yang diolah menjadi sate maupun gulai. Namun sayang, di tengah cuaca sore yang mendung itu kami kurang beruntung sehingga hanya dapat menyantap satenya saja tanpa ditemani suguhan gulai kelinci yang kabarnya top-top markotop itu.Bertempat di sebuah warung kecil di kawasan Jetis Kulon Surabaya, kami mencoba menambatkan hati untuk menikmati hidangan ala kelinci di Warung Bedjo. Tempatnya cukup mungil namun bersih. Pelayanannya pun cukup tepat waktu. Mencarinya pun tak sulit, karena di depannya terpampang tegas plakatnya “Sate Kelinci”.Gurih dan kelezatan sate kelinci dengan bumbunya sepintas memang tidak ada bedanya dengan sate lainnya (sate ayam maupun sate kambing). Hanya saja teste dan tekstur kelinci bisa jadi merupakan pembedanya. Rasa daging kelinci unsur gurihnya tidak begitu tajam sebagaimana ayam, namun teksturnya cukup lembut dan tidak sekeras daging kambing.Menurut si pembakar sate kelinci Bedjo, kehadirannya di Surabaya dengan menu pilihan utama sate dan gulai kelinci, adalah sebuah terobosan jemput bola yang diperuntukkan bagi mereka yang hobi makan sate kelinci tanpa harus jauh-jauh ke luar kota. Di samping itu, juga karena di kota Pahlawan sendiri belum banyak orang yang membuka bisnis tempat makanan serupa. Apalagi, di pasaran daging kelinci tidak dijual bebas, melainkan harus memotong sendiri. Di Warung Bedjo sendiri, kelinci-kelinci siap potong selalu datang setiap dua minggu sekali berkat pasokan peternak kelinci asal Madiun yang merupakan kerabanya sendiri. Selain itu ada juga pemasok dari daerah Malang dan sekitarnya, sehingga stoknya selalu tak pernah kehabisan.Dagingnya Empuk dan ManisDAGING sate kelinci biasanya diambil dari kelinci siap potong yang berusia antara 4-6 bulan. Dipilihnya kelinci usia itu, karena rasa dagingnya empuk dan manis. Biasanya dari satu kelinci yang gemuk dapat diperoleh 60-90 tusuk sate. Sementara sisanya yang berupa potongan daging dan tulang-tulangnya biasanya dijadikan bahan gulai.Dalam penyajiannya, sate kelinci tak ubahnya sate lainnya. Bumbunya pun sama yaitu terdiri atas bumbu kacang bercampur irisan bawang dan kecap manis, plus jeruk nipis. Di Warung Bedjo satu porsi sate kelinci yang terdiri dari 10 tusuk dihargai Rp. 9.000 sudah termasuk nasi atau lontong siap santap.Sebagai teman bersantap sate maupun gulai kelinci tersedia minuman khas yang menyehatkan, yaitu es temu lawak atau es jeruk nan menyegarkan. Masing-masing dihargai 2.000 perak per gelas. Jadi cukup murah daripada harus jauh-jauh berburu sate kelinci ke Malang atau ke Teretes Prigen yang memerlukan waktu tidak sedikit. So, bagi yang membawa teman makan namun kurang selera dengan sate kelinci, di Warung Bedjo tersedia juga menu lain yaitu ikan gurame bakar.Selain warung sate kelinci Bedjo, di Surabaya sate dan menu berbahan khusus daging kelinci ini juga bisa di peroleh di kawasan Panjang Jiwo juga Nginden. Dapat Sembuhkan AsmaSELAIN dagingnya yang cukup banyak digemari orang sebagai bahan sate atau gulai, ternyata daging kelinci juga cukup mujarab sebagai obat asma. Khasiat ini sudah dibuktikan secara ilmiah oleh mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang yang terdiri dari Dian Kesuma. Bahkan berkat keberhasilannya menemukan obat asma itu, mereka dinobatkan sebagai juara nasional dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional bidang IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) yang digelar di Solo beberapa waktu lalu.Menurut Dian Kesuma, hasil penelitian tersebut bermula dari pengalaman pribadinya, yang sejak SD mengidap penyakit asma. Karena asma yang diidapnya itu, setiap kena debu atau asap dia langsung bersin dan batuk-batuk, dan disertai napas sesak. Kala itu, dia disarankan banyak-banyak makan daging kelinci. Setelah rajin mengonsumsi daging kelinci selama hampir satu tahun, penyakit yang dideritanya pun sembuh hingga sekarang. Selain sebagai obat asma, mengonsumsi daging kelinci juga dapat menyembuhkan radang tenggorokan (esopagus). Untuk yang satu ini merupakan hasil penelitian MJ. Naya dalam jurnal terbitan Spanyol. Rahasia kesembuhan lewat daging kelinci ini, menurut asumsi Dian Kesuma dkk adalah, karena daging kelinci mengandung senyawa kitotefin dan zat-zat lain seperti asam lemak omega tiga dan omega sembilan yang bisa menyembuhkan penyakit asma. Secara teknis menurut Dian, daging kelinci itu mampu menstabilkan membran sel mastosit. Asma, itu terjadi karena alergi. Daging kelinci itu bisa merangsang terbentuknya antibodi pada tubuh. Antibodi itu kalau melekat pada sel mastorit, memberannya bisa pecah. Kalau sudah pecah, yang bisa membentuk otot-otot polos saluran napas berkontraksi. Akibatnya, saluran napas menyempit sehingga terjadi asma. Asam lemak omega tiga dan sembilan cara kerjanya sama. Makanya, daging kelinci itu bisa menyembuhkan dan mencegah penyakit asma kalau dimakan secara rutin. Hanya saja, dalam pengolahan daging kelinci sebagai obat itu perlu mendapatkan perhatian. Kalau tidak, kadar kitotefinnya bisa hilang. Oleh sebab itu, dianjurkan jangan terlalu panas dalam memasak daging kelinci agar kitotefin itu tetap baik, memasaknya jangan sampai melebihi 150 derajat celcius. Jadi, penasaran kan untuk mencobanya…? (arohman/bbs)
Diposting oleh
petani berdasi
Senin, 15 Juni 2009
di
03.34
|
0
komentar
![]() Secara formal, Sarjiyo hanya tamat SMP. Namun, dengan percaya diri dia mengenakan gelar MM. Bila berbicara tentang siklus energi dengan dia, tampak ketepatan gelar MM itu. Sarjiyo murah memberi kata-kata untuk menjelaskan rantai makanan dan perputaran energi di kosmos. Maka, gelar MM mempunyai akronim gurauan buatannya, Sarjiyo men mingkem (biar diam). Dengan satu tarikan napas, Sarjiyo men-jembreng-kan teori rantai makanan yang mudah diterima akal. Bila lawan bicaranya berasal dari Jawa, kosakata berbahasa Jawa bertebaran di sana-sini. Baginya, kesadaran tentang rantai makanan dan siklus energi inilah yang menjadi pemacu utama masyarakat membuat biogas. Pria asal Kulon Progo, Yogyakarta, ini dikenal sebagai pembuat instalasi biogas. Sejak tahun 2004 dia berkenalan dengan teori instalasi biogas dan bereksperimen membuat bangunan serta sistem yang bisa mengolah aneka limbah organik menjadi dua produk sekaligus, biogas dan kompos. Instalasi biogas pertama sekaligus laboratorium uji coba buat biogas ada di pekarangan rumahnya di Kulon Progo. Butuh setahun bagi Sarjiyo untuk mendapatkan desain dan ukuran instalasi biogas yang pas. Dia juga menghitung jumlah kotoran ternak atau theletong. Dari catatannya, seekor sapi menghasilkan minimal 10-15 kilogram kotoran basah per hari. Theletong itu lantas dimasukkan ke dalam ruang fermentasi biogas. Untuk kebutuhan satu-dua keluarga, ruang kedap udara yang dibutuhkan berukuran sekitar 30 meter kubik. Instalasi itu cukup untuk mengolah kotoran yang dihasilkan dua ekor sapi. Hasil fermentasi kotoran dua ekor sapi setara dengan 0,5 liter minyak tanah dan bisa mencukupi kebutuhan bahan bakar memasak satu keluarga. Demi penghematan lahan, Sarjiyo membangun instalasi biogas di bawah tanah yang ditutup beton. Di atas beton penutup dimanfaatkan sebagai kandang sapi. Hasilnya, sejumlah warga di Kota Yogyakarta bisa memelihara dua ekor sapi di kandang yang terbatas, bersih, sekaligus memproduksi biogas untuk memasak. ”Konstruksi instalasi saya buat dengan beton karena lebih awet dibandingkan fiber dan plastik. Kalau plastik hanya tahan beberapa tahun, beton bisa puluhan tahun. Selain itu, di atas instalasi plastik tak bisa digunakan untuk kandang dan perawatannya juga sulit,” katanya. Sementara itu, dengan beton, tambah Sarjiyo, theletong tinggal dimasukkan ke dalam lubang menuju tabung instalasi, lalu biarkan bakteri anaerob yang akan membantu fermentasi. Gas yang dihasilkan dari fermentasi kotoran sapi ini lantas disalurkan ke dapur untuk dijadikan bahan bakar di kompor. Sarjiyo juga mendesain sendiri kompor berbahan bakar biogas. Kompor ini merupakan modifikasi dari kompor gas biasa. Ada pula tabel angka yang menunjukkan simpanan gas saat itu. Bila penunjuk menyentuh angka 5, simpanan gas maksimal. Kalau penunjuk sudah merosot sampai ke angka 1, pemakai harus menunggu beberapa saat sebelum memakai kompor lagi. Kalau tak ada sapi, biogas masih bisa dihasilkan dari aneka jenis kotoran ternak, ampas produksi tahu, kulit kacang, atau limbah organik lain. Semua itu bisa dicemplungkan ke tabung fermentasi sebagai produsen gas metana. Butuh satu tahun bagi Sarjiyo untuk mendapatkan konstruksi bangunan biogas yang sempurna. Biaya uji coba membuat satu instalasi biogas untuk mengolah kotoran dari dua ekor sapi itu sekitar Rp 4,7 juta. Setiap kali ada kelemahan, konstruksi biogas langsung diperbaiki. Sekarang, harga pembuatan instalasi itu Rp 9 juta-Rp 10 juta karena kenaikan harga material. Berawal dari pertanian Kisah biogas Sarjiyo berawal dari pertanian. Ketika itu, dia mengikuti pelatihan pertanian organik dan biogas yang diadakan salah satu LSM di Yogyakarta. Ada beberapa kawannya yang juga ikut pelatihan itu. Kata Sarjiyo, apa yang dia lakukan hanyalah melanjutkan teori ke praktik langsung. Persoalan biogas dipahami Sarjiyo sebagai bagian dari pertanian organik. Biogas dihasilkan dari kotoran ternak atau limbah pertanian. Setelah proses fermentasi, tak hanya biogas yang diperoleh, tetapi juga kompos padat dan cair. Kompos yang tak berbau ini bisa digunakan di sawah untuk menyuburkan pertanian. Setelah hasil pertanian dipanen manusia, limbahnya digunakan untuk pakan ternak. Ternak membantu kerja petani di sawah. Dari ternak itu juga, theletong diproduksi. ”Theletong itu bisa menjadi biogas lagi,” ucap Sarjiyo menjelaskan kesatuan rantai makan-dimakan serta alur energi terbarukan sekaligus sebuah pertanian terpadu. ”Pelaku biogas itu orangnya sendiri, jadi tergantung mau rajin atau tidak. Kalau rajin, ya kompos dibawa ke sawah, sawah pun subur. Kandang juga bersih karena kotoran disapu ke lubang instalasi biogas. Ini menjadi aspek sosialnya,” ucapnya. Oleh karena itu, Sarjiyo rajin berkeliling untuk menyebarkan pengetahuan tentang keseimbangan rantai makan-dimakan, pertanian terpadu, hingga biogas dan nol sampah. Petani juga bisa menghemat pengeluaran karena tak perlu lagi membeli bahan bakar untuk memasak. Inilah yang disebut Sarjiyo dengan fakta, sesuatu yang bisa dilihat manfaatnya secara kasatmata. Fakta juga yang membuat dia tak peduli dengan ejekan sejumlah kawan ketika Sarjiyo baru mulai membangun instalasi. Ejekan itu dilontarkan karena perhitungan instalasi biogas ala Sarjiyo tak sesuai dengan teori di buku. Teori dalam buku itu belum menjadi fakta. Ia percaya dengan hitungannya sendiri. Buktinya, setelah instalasi biogas terbangun, kerja instalasi ini jauh lebih maksimal dan awet dibandingkan instalasi bikinan orang lain. Di beberapa tempat, Sarjiyo bahkan membangun satu instalasi baru bersisian dengan instalasi biogas buatan salah satu perguruan tinggi. Setelah berhasil, Sarjiyo semakin gencar membawa biogas ke pelbagai kalangan. Tak hanya petani, tetapi juga berbagai kelompok masyarakat yang tertarik membangun instalasi biogas ala Sarjiyo. Di Kulon Progo, Sarjiyo dibantu 80-an orang berusia 18-40 tahun yang tergabung dalam Sanggar Solidaritas Petani Lestari. Mereka juga yang membantu Sarjiyo mengerjakan instalasi biogas di berbagai tempat. Sejak tahun 2004, ada 400 instalasi biogas yang dibuat Sarjiyo. Itu pun baru di wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Kalau ditambahkan instalasi dari berbagai daerah di Indonesia, jumlahnya bisa ribuan. ”Karena biogas, saya bisa jalan-jalan ke berbagai tempat, dari Sabang sampai Merauke. Tentunya sembari membahas biogas,” ucapnya. Jadilah Sarjiyo berkeliling Nusantara ”memasarkan” biogas, instalasi buatannya, dan pertanian terpadu. Begitulah asal mula dia secara bergurau memberi gelar MM bagi dirinya sendiri. ”Sarjiyo MM alias men mingkem, biar diam. Ini karena saya terlalu sering jualan kata-kata (tentang biogas dan pertanian terpadu) ha-ha-ha,” ujar pria penyuka humor ini. Data Diri • Nama: Sarjiyo • Lahir: Kulon Progo, DI Yogyakarta, 3 Desember 1966 • Pendidikan: - SD Karangwuni, Wates - SMP Trimurti, Temon, Kulon Progo - Jurusan Peternakan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Veteran, Wates (tak lulus) • Istri: Ida Sumber : Kompas Reporter : Agnes Rita Sulistyawaty
Diposting oleh
petani berdasi
Rabu, 10 Juni 2009
di
17.12
|
0
komentar
WANITA MEMANG SUSAH DIBUAT "BAHAGIA" Jika dikatakan cantik dikira menggoda ,jika dibilang jelek di sangka menghina..Bila dibilang lemah dia protes,bila dibilang perkasa dia nangis . Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak (sambil ngomel masa disamakan dengan cowok)Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut (sambil ngomel,Egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan) Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya ,tapi kenapa ya ..... lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga Bila kesalahannya diingatkankan,mukanya merah..bila di ajari mukanya merah,bila di sanjung mukanya merahjika marah mukanya merah,kok samasemua ? bingung !! Di tanya ya atau tidak, jawabnya diam;ditanya tidak atau ya, jawabnya diam;ditanya ya atau ya, jawabnya :diam,ditanya tidak atau tidak, jawabnya ; diam,ketika didiamkan malah marah(repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya). Di bilang ceriwis marah,dibilang berisik ngambek,dibilang banyak mulut tersinggung, tapi kalau dibilang S u p e lwadow seneng banget...padahal sama saja maksudnya. Dibilang gemuk engga senangpadahal maksud kita sehat gitu lho dibilang kurus malah senang padahal maksud kita "kenapa elho jadi begini !!!" Itulah WANITA makin kita bingung makin senang DIA ! PRIA ITU MEMANG SUSAH... Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia pikir kamu jatuh cintapadanya.......... Jika tidak, kamu akan dibilang sombong. Jika kamu berpakaian bagus, dia pikir kamu sedang mencoba untukmenggodanya. Jika tidak, dia bilang kamu kampungan. Jika kamu berdebat dengannya, dia bilang kamu keras kepala.Jika kamu tetap diam, dia bilang kamu nggak punya otak. Jika kamu lebih pintar dari pada dia, dia akan kehilangan muka..Jika dia yang lebih pintar, dia bilang dia paling hebat. Jika kamu tidak cinta padanya, dia akan mencoba mendapatkanmu.Jika kamu mencintainya, dia akan mencoba untuk meninggalkanmu. Jika kamu beritahu dia masalah mu, dia bilang kamu menyusahkan.Jika tidak, dia bilang kamu tidak mempercayai mereka. Jika kamu cerewet pada dia, kamu dibilang seperti seorang pengasuhbaginya. Tapi jika dia yang cerewet ke kamu, itu karena dia perhatian. Jika kamu langgar janji kamu, kamu tidak bisa dipercaya.Jika dia yang ingkari janjinya, dia melakukannya karena terpaksa. Jika kamu merokok, kamu adalah cewek liar !Tapi kalo dia yang merokok, dia adalah seorang gentleman, wuiihh..! Jika kamu menyakitinya, kamu dibilang perempuan kejam..Tapi jika dia yang menyakitimu, itu karena kamu terlalu sensitif danterlalu sulit untuk dibuat bahagia !!!!! Jika kamu mengirimkan ini pada cowok-cowok, mereka pasti bersumpah kalauini tidak benar. Tapi jika kamu tidak mengirimkan ini pada mereka, mereka akan bilang kamu egois. Jadi..... kirimkan ini pada semua teman lelakimu diluar sana dan juga pada semua teman cewekmu untuk berbagi tawa bersama.. ;) hwahwahwa... Well.... it's true..!!!!
Diposting oleh
petani berdasi
|
ngalih boso...shadows...kangen bapakbunga pertama
--tni wurung,tani wae--thë÷Jüñîør
þétåñï ߀®gîtãr...
------Þút®å-Tëñgãh------
¨‘°º•ßùkú÷tãmÜ•º°‘¨--------ngudo roso--------waktu rungkut permaiLabels
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan,
jangan buru-buru merasa unlucky in love.
Karena kalimat bijak mengatakan,
cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya.
Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved
|
||||