Door Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.
...
Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.

Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa.

Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.

Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.

Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.

Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.

Sepanjang hidupnya, Kartini sangat senang berteman. Dia mempunyai banyak teman baik di dalam negeri maupun di Eropa khususnya dari negeri Belanda, bangsa yang sedang menjajah Indonesia saat itu. Kepada para sahabatnya, dia sering mencurahkan isi hatinya tentang keinginannya memajukan wanita negerinya. Kepada teman-temannya yang orang Belanda dia sering menulis surat yang mengungkapkan cita-citanya tersebut, tentang adanya persamaan hak kaum wanita dan pria.

Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.

Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.

Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.

Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.

Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.

Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.

Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Itu semua adalah sisa-sisa dari kebiasaan lama yang oleh sebagian orang baik oleh pria yang tidak rela melepaskan sifat otoriternya maupun oleh sebagian wanita itu sendiri yang belum berani melawan kebiasaan lama. Namun kesadaran telah lama ditanamkan kartini, sekarang adalah masa pembinaan.

Nama:
Raden Ajeng Kartini
Lahir:
Jepara, Jawa Tengah, tanggal 21 April 1879
Meninggal:
Tanggal 17 September 1904, (sewaktu melahirkan putra pertamanya)

Pendidikan:
E.L.S. (Europese Lagere School), setingkat sekolah dasar
Suami:
Raden Adipati Joyodiningrat, Bupati Rembang
Prestasi:
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Jepara
- Mendirikan sekolah untuk wanita di Rembang
Kumpulan surat-surat:
Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Penghormatan:
- Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional
- Hari Kelahirannya tanggal 21 April ditetapkan sebagai hari besar
Sumber:
- Album Pahlawan Bangsa Cetakan ke 18, penerbit PT Mutiara Sumber Widya
- Wajah-Wajah Nasional cetakan pertama. Karangan: Solichin Salam

Sumber : TokohIndonesia DotCom
Diposting oleh petani berdasi
Jumat, 17 April 2009 di 21.59 | 0 komentar  
Budidaya Ikan arwana bukanlah sesuatu yang mudah anda harus mempelajari beberapa tehik atau cara untuk membudidayakan Ikan arwana ini,saya sech ga tau yang profesional tapi kalau cara budidaya ikan arwana yang dasar adalah sebagai berikut :
...
Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara dalam kolam berukuran 5 x 5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.

Ruangan pemijahan dibangun di pojok perkolaman dan ditambah dengan beberapa kayu gelondongan untuk memberikan kesan alami. Batu dan kerikil dihindari karena dapat melukai ikan atau dapat tercampur pakan secara tidak sengaja.

Kolam pembesaran dibangun di area tenang dan ditutup sebagian, dan dijauhkan dari sinar matahari langsung. Induk dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang gonad.

Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu 27-29 C. Penggantian air dilakukan sebanyak 30-34% dari total volume dengan air deklorinisasi.

Pemberian Pakan
Keseimbangan gizi sangat penting bagi kematangan gonad dan pemijahan. Induk diberikan pakan bervariasi yang mengandung kadar protein tinggi. Pakan diberikan setiap hari dalam bentuk ikan/udang hidup atau runcah, dan ditambah pelet dengan kadar protein 32 %. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2 % dari bobot total tubuh.

Kematangan gonad
Matang gonad terjadi pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh 45-60cm.
Pemijahan terjadi sepanjang tahun, dan mencapai puncaknya antara bulan Juli dan Desember. Induk jantan di alam akan menjaga telur yang sudah dibuahi dalam mulutnya hingga 2 bulan ketika larva mulai dapat berenang.

Arwana betina mempunyai ovarium tunggal yang mengandung 20-30 ova besar dengan diameter rata-rata 1,9 cm dengan kematangan berbeda-beda. Induk jantan dewasa juga mempunyai sebuah organ vital menyerupai testis.

Pembedaan Kelamin
Juvenil sulit dibedakan jenis kelaminnya. Perbedaan akan muncul setelah ikan berukur 3-4 tahun.

Pembedaan jenis kelamin diketahui melalui bentuk tubuh dan lebar mulut. Arwana jantan mempunyai tubuh lebih langsing dan sempit, mulut lebih besar dan warna lebih mencolok daripada betina. Mulut yang melebar dengan rongga besar digunakan untuk tujuan inkubasi telur. Perbedaan lain adalah ukuran kepala jantan relatif lebih besar, sifat lebih agresif termasuk dalam perebutan makanan.

Kebiasaan Pemijahan
Tingkah laku arwana sangat unik selama masa pengenalan lain jenis. Masa ini berlangsung selama beberapa minggu atau bulan sebelum mereka mulai menjadi pasangan. Hal ini dapat diamati pada waktu malam, ketika ikan berenang mendekati permukaan air. Arwana jantan mengejar betina sekeliling kolam, terkadang pasangan membentuk lingkaran (hidung menghadap ke ekor pasangan).

Sekitar 1-2 minggu sebelum pemijahan, ikan berenang bersisian dengan tubuh seling menempel. Terjadilah pelepasan sejumlah telur berwarna jingga kemerahan, Jantan membuahi telur dan kemudian mengumpulkan telurdi mulitnya untuk diinkubasi sampai larva dapat berenang dan bertahan sendiri. Diameter telur 8-10 mm dan kaya akan kuning telur dan menetas sekitar seminggu setelah pembuahan. Setelah penetasan, larva muda hidup dalam mulut jantan hingga 7-8 minggu sampai kuning telur diserap total. Larva lepas dari mulut dan menjadi mandiri setelah ukuran tubuh 45-50 mm.

2. Panen Larva
Inkubasi telur secara normal adalah membutuhkan 8 minggu. Untuk memperpendek waktu, telur yang sudah dibuahi dapat dikeluarkan dari mulut pejantan 1 bulan setelah pemijahan. Induk jantan ditangkap dengan sangat hati-hati dengan jaring halus lalu diselimuti dengan handuk katun yang basah untuk menghindari ikan memberontak dan terluka.

Untuk melepaskan larva dari mulut induk jantan, tarik perlahan bagian bawah mulut dan tubuh ditekan ringan. Larva dikumpulkan dalam wadah plastik dan diinkubasikan dalam akuarium. Jumlah larva yang dapat mencapai 25-30 ekor.

Teknik Pembenihan
Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasikan dalam akuarium berukuran 45×45x90 cm. Temperatur air 27-29 °C menggunakan pemanas thermostat. Oksigen terlarut 5 ppm (mg/ I) menggunakan aerator bukaan kecil.

Untuk mencegah infeksi akibat penanganan larva, dalam air dilarutkan Acriflavine 2 ppm. Menggunakan teknik pembenihan in vitro ini, Survival Rate (SR) yang didapat sampai tahap ikan dapat berenang adalah 90-100 %.

Selama periode inkubasi, larva tidak perlu diberikan pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium. Larva mulai berenang ke atas bertahap ketika ukuran kuning telur mengecil. Pada minggu ke delapan, kuning telur hampir terserap habis sehingga larva mulai berenang ke arah horizontal. Pada tahap ini, pakan hidup pertama harus mulai diberikan untuk mencegah larva saling Ketika ukuran larva mencapai 8,5 cm atau berumur 7 minggu, kuning telur terserap secara penuh dan larva dapat berenang bebas.

Pemeliharaan Larva
Tambahan pakan hidup yang dapat diberikan seperti cacing darah atau anak ikan yang ukurannya sesuai bukaan mulut arwana.
Larva yang telah mencapai panjang 10-12 cm dapat diberikan pakan seperti udang air tawar kecil atau runcah untuk mengimbangi kecepatan tumbuhnya.
Sumber:Buu Budidaya Ikan Arwana
Diposting oleh petani berdasi
Masyarakat tentu tidak asing dengan belut. Salah satu sumber makanan berprotein ini banyak diolah dalam bentuk keripik atau rempeyek. Namun, di Warung Makan Penyet Bu Lintang, pasangan suami istri Muflih dan Tini (36) menawarkan cita rasa belut yang berbeda, yaitu dalam bentuk olahan tongseng dan pecak.
...
Warung makan ini terletak di Jalan Raya Slawi-Jatibarang, tepatnya di Desa Kabunan, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Meski warung ini jauh dari kesan mewah, cita rasa masakan yang disajikan akan membuat orang ketagihan.

Tongseng dihadirkan dengan rasa yang khas. Aroma rempah-rempah dan rasa yang legit menjadi salah satu ciri khas tongseng belut. Masakan ini disajikan dengan timun iris sehingga terasa segar. Bumbu yang kental melumuri potongan-potongan belut yang diletakkan di atas piring. Tubuh kita pun akan menjadi hangat setelah menyantap masakan ini.

Pecak disajikan dengan sambal mentah, disertai sedikit irisan jeruk nipis. Belut yang sudah digoreng diletakkan di atas sambal tersebut. Meski telah digoreng, belut tidak keras. Dagingnya masih utuh dan dapat dilepas dengan mudah dari durinya. Aroma sambal mentah yang harum ikut memberi kenikmatan pada masakan tersebut.

Masakan-masakan tersebut tersaji dengan harga yang terjangkau. Harga tongseng belut Rp 15.000 per porsi, sedangkan pecak belut Rp 10.000 per porsi. Warung ini buka pukul 10.00 hingga 21.00.

Tini mengatakan, ia ingin menghadirkan cita rasa yang berbeda dari masakan belut. Meskipun demikian, ia memberikan pilihan kepada pengunjung sesuai selera mereka. "Ada yang menyukai tongseng, ada juga yang pecak. Bahkan, ada yang hanya minta belut goreng," ujarnya.

Rempah-rempah

Ia menggunakan rempah-rempah dan bumbu tradisional untuk memberikan rasa dan aroma yang kuat pada masakannya. Selain belut, ia juga memberikan pilihan masakan lain berupa pecak ayam, bebek, dan lele. Ia juga menyuguhkan pecak terong seharga Rp 2.500 per porsi serta sayur asem seharga Rp 1.000 per porsi.

Tini menuturkan, ia menggeluti usaha tersebut sejak 1,5 tahun yang lalu. Nama Lintang diambil dari nama anak ketiganya. Peminat masakannya cukup banyak.

Selain menikmati makanan di warung, pengunjung yang menginginkan suasana lebih santai dapat menikmati masakan di luar warung. Tini menyediakan tempat makan di bawah pohon mangga di depan warungnya. Meskipun demikian, pembeli harus sabar menunggu karena masakan baru dapat terhidang dalam waktu 10-15 menit.
diambil dr artikel KOMPAS
Diposting oleh petani berdasi

Berawal dari Sakit Hati Karena Pupuk Buatan Pabrik Menghilang

Pengembangan pupuk organik tidak muncul begitu saja. Namun siapa sangka latar belakangnya berawal dari sakit hati ketika jadwal pemupukan pupuk buatan pabrik selalu menghilang.

HALIMATU HILDA, Kudus

...
MELINTAS di bawah rerimbunan pohon di kawasan lingkungan sekretariatan daerah (Setda Kudus), lelaki berusia sekitar 40 tahun itu melengggang. Dengan tas menggantung di pundaknya, langkahnya terlihat sangat ringan. Tidak ada beban yang tersirat dari wajahnya, malah senyumnya menyungging saat bertemu.

"Ini mau ke Bappeda melihat program-program desa," ucapnya saat ditanya perihal kedatangannya yang juga menjabat sebagai seorang kepala desa di wilayah Jekulo.

Ya, pria bernama lengkap Sumani tersebut memang beberapa kali memantau usulan program terkait pembangunan desa. Kali ini, yang ingin dilihatnya adalah usulan pembangunan jalan desa. Supaya tidak selalu berkena banjir, pihak desa meminta jalan ditinggikan.

"Lha bagaimana, kalau tidak ditinggikan pasti akan kena banjir terus. Karena letak jalan dengan sungai malah tinggi sungainya," jelasnya.

Pembicaraan terus berlanjut tentang program peninggian jalan tersebut. Namun, ketika disinggung permasalahan pupuk, lelaki ini tidak seperti kebanyakan petani yang mengeluhkan keberadaan pupuk.

"Pupuk wah sekarang pupuk baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah semuanya lancar," ujarnya sambil tersenyum.

Kemudian ia melanjutkan pembicaraan yang dimaksudkan tadi. "Kan kami sudah mengembangkan pupuk organik. Jadi tidak tahu dong dengan permasalahan pupuk seperti urea atau pupuk buatan pabrik lainnya," tambahnya.

Sikap acuh tak acuhnya terhadap pupuk pabrikan berbeda saat ditanya setahun lalu. Tatkala ia masih menggunakan pupuk pabrikan. Setidaknya yang terekam dalam Radar Kudus, pihaknya bersama perkumpulan kelompok tani nelayan andalan (KTNA) sangat tersiksa saat masih menggunakan pupuk pabrikan.

Di mana saat pupuk ini dibutuhkan, ternyata hanya sedikit sekali yang datang. Bahkan sampai didapati, petani di daerahnya harus mengulur waktu pemupukan, karena pasokan sering terlambat.

Mereka pun tidak dapat berbuat banyak, lantaran persoalan pupuk itu sudah didengungkan pemkab yang diusulkan penambahan kuota. Hanya, permasalahan tersebut tidak pernah membuatnya lega. "Awalnya dari kepepet tidak ada pupuk. Akhirnya kami beralih ke pupuk organik saja," ujarnya.

Keinginan tersebut dibahas di tengah-tengah para anggota KTNA Kecamatan Jekulo. Karena minim pengetahuan, pihaknya dibimbing Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kudus.

"Kami bersama-sama dengan Pak Agus seorang petugas penyuluh lapangan (PPL). Saya sangat berterimakasih, karena Pak Agus siang malam terus membantu kami," ujarnya.

Ia pun mengakui tidak mudah merealisasikan keinginan tersebut. Apalagi jika mental petani pada umumnya enggan bersusah payah. Pasalnya, untuk memroses pupuk organik harus menunggu selama 20 hari, baru dapat digunakan.

Selain itu, proses pembuatannya dari sampah rumah tangga yang sudah membusuk. Sampah itu diayak kemudian dijadikan satu dengan kotoran hewan kemudian ditambah dan bahan lainnya.

Itu pun belum selesai, karena masih harus diuji coba di lahan persawahan. Proses yang terkesan rumit tersebut diakuinya membuatnya ia puas. Walaupun hasil panennya hanya sekitar 6 ton per hektar (sama seperti hasil menggunakan pupuk organik) tapi dari biayanya cukup murah yakni Rp 35 ribu per kuintal.

"Kalau pakai pupuk anorganik (pabrikan) harga per kuintalnya Rp 120 ribu. Meski begitu, kami yakin suatu saat nanti keuntungan lebih akan kami dapat," harapnya.

Sumani yakin, penggunaan pupuk organik ini semakin lama kondisi tanahnya semakin membaik dan subur. Hal ini tentunya menghemat penggunaan pupuk organik. Dari dua ton untuk per hektarnya, dalam jangka tertentu akan kebutuhan pupuknya akan berkurang.

"Kami sama sekali sudah tidak menggunakan pupuk pabrikan. Kami berharap petani yang lain juga sama. Apalagi pupuk ini sangat ramah lingkungan," tambahnya.

Apakah pupuk itu akan dijual bebas? Pihaknya mengakui kebutuhan pupuk baru untuk anggota kelompok tani. Pasalnya, dana yang terkumpul hanya cukup untuk memproduksi sekitar 70 ton. Dalam artian, produksinya baru dirasakan anggotanya saja. Ada yang mau bergabung? (*/joe)
Sumber : Jawa Pos Radar Kudus
Diposting oleh petani berdasi

Tulisan ini muncul di Forum-Pembaca- Kompas@yahoogroups. com, Senin, March 2, 2009. Menarik juga buat disimak.

http://perempuan. kompas.com/ read/xml/ 2009/03/02/ 13092730% 20/facebook. mengancam. kesehatan. mental

Beberapa waktu lalu muncul laporan mengenai tanda-tanda orang kecanduan Facebook atau situs jejaring sosial lainnya, misalnya Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman. Anda juga rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
...
Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti Facebook atau MySpace juga bisa membahayakan kesehatan karena memicu orang untuk mengisolasikan diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental. Hal ini memang bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial, di mana pengguna diiming-imingi untuk dapat menemukan teman-teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan Anda saat ini.

Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena "berpisah" dari komputernya.

Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.

Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain.

Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. "Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat."

Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas.

Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. "Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah," tegasnya.

Namun, bila aktivitas Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun.

DIN
Sumber : The Daily Mail

salam,
gunawan
www.wisata-buku. com
Diposting oleh petani berdasi

Oleh FX Puniman
Beberapa bulan setelah menjadi Direktur Hutan Pendidikan Gunung Walat, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun 2003, Supriyanto melihat warga setempat sering menebangi pohon untuk kayu bakar. Hasil survei menyebutkan, dalam sehari sekitar 10 meter kubik kayu bakar keluar dari hutan pendidikan Gunung Walat.

...
Dalam benak Supriyanto muncul pertanyaan, mengapa penduduk tidak memilih menggunakan ranting pohon untuk kayu bakar? Mengapa mereka memilih menebang pohon? Dari para penebang pohon itu pula dia memperoleh jawabannya. Rupanya, warga sekitar Gunung Walat lebih suka menebang pohon karena energi api yang dihasilkan ranting tidak cukup besar.

Di sisi lain, alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini merasa khawatir penebangan pohon akan berdampak terhadap krisis energi, terutama bahan bakar fosil yang terus menipis.

Supriyanto lalu terpikir memanfaatkan energi yang berasal dari biomassa, seperti rumput, limbah kayu, semak belukar, ranting kayu, dan potongan bambu, yang sesungguhnya amat mudah diperoleh di pekarangan.

Berdasarkan temuan dan kekhawatiran itulah, Supriyanto kemudian mulai memfokuskan diri untuk membuat teknologi pedesaan yang sederhana dengan bahan bakar yang mudah diperoleh dari limbah lingkungan setempat.

”Konsep yang saya pergunakan adalah farmer energy atau energi petani. Teknologinya harus sederhana, mudah, murah, tidak berisiko, tetapi efisiensinya tinggi,” katanya.

Ia lalu menjadikan tungku sebagai pilihan untuk diteliti. Beberapa artikel tentang tungku di berbagai negara, termasuk dari Indonesia, dia pelajari.

Bertemu ahli arang

Di tengah upaya mempelajari tungku tersebut, Supriyanto yang juga peneliti di Seameo Biotrop (Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis) bertemu dengan Robert Flanagan, ahli bio-charcoal (arang) dari Finlandia yang menjadi tamu Biotrop.

Flanagan dikenal sebagai salah seorang peneliti yang mengembangkan tungku pyrolysis di China. Ia bekerja sama dengan Pusat Penelitian Bambu Cina (Inbar).

Bersama Flanagan, Supriyanto sering terlibat dalam berbagai diskusi tentang

penelitian tungku untuk model kebutuhan energi yang sedang dikerjakan. Penelitian mulai dilakukan sejak sekitar tahun 2005. Dia mencoba mulai dari membuat tungku tradisional berbahan dasar tanah liat, semen, besi, dan kaleng bekas drum oli.

”Barulah pada percobaan yang kesembilan bisa berhasil. Sebuah tungku yang ideal untuk warga setempat terwujud. Tungku ini

saya beri nama tungku ’Jimat’, kependekan dari enerji hemat agar mudah diingat dan diucapkan,” kata Supriyanto.

”Tungku Jimat relatif sederhana dan berbahan limbah. Bahan bakarnya juga merupakan limbah dan dibuat dengan konsep energi petani,” katanya seraya menyebutkan, pembuatan tungku dilakukan di bengkel perajin musik tradisional di daerah Sukabumi.

Hemat energi

Mantan Pembantu Dekan III Fakultas Kehutanan IPB ini mengemukakan, teknologi tungku dengan konsep energi petani yang dikembangkan itu relatif efisien. Secara teknis di sini juga menggambarkan proses pyrolysis, yakni konsep teknik pembakaran yang meminimalkan penggunaan oksigen. Ruang yang minim oksigen itu lalu dimampatkan untuk meningkatkan suhu sehingga timbul asap. Asap itu kemudian diubah menjadi gas melalui satu ruangan bersuhu antara 300 derajat dan 600 derajat celsius.

Pada saat terjadi proses pyrolysis, ada tiga sumber panas, yakni kayu atau bahan organik lain untuk menghasilkan api dan asap. Asap kemudian diubah menjadi gas. Melalui ruangan bersuhu tinggi, gas terbakar menjadi energi. Sisa dari proses itu menghasilkan arang. Arang inilah yang lalu menjadi bahan bakar ketiga.

Di dalam konsep itu, secara teknis harus ada alat lain, yakni generator yang terbuat dari tabung besi. Fungsinya untuk menyimpan dan menimbulkan panas yang berasal dari bahan bakar yang terbakar, juga bisa menjaga ruangan agar tetap bersuhu 300-600 derajat celsius. Pencapaian suhu ini penting untuk mendapatkan pembakaran yang sempurna. Sementara itu, akselerator berfungsi mempercepat penyemprotan udara panas.

Tungku Jimat, menurut Supriyanto, sangat tepat untuk masyarakat pedesaan, daerah transmigrasi, warga pinggiran kota, dan pedagang makanan kaki lima.

”Tungku Jimat ini hemat energi, bahan bakarnya juga gratis karena berasal dari limbah yang diperoleh dari pekarangan rumah, tak merusak lingkungan, dan berbasis pertanian,” tambahnya.

Di samping itu, bahan baku tungku juga berasal dari limbah yang relatif murah, seperti drum oli, dan tak berisiko meledak. Energi yang dihasilkan pun cukup besar.

”Oleh karena tak menggunakan bahan bakar minyak, penggunaan tungku Jimat bisa menghemat pengeluaran uang belanja keluarga,” katanya.

Kini, tungku Jimat dalam proses pengujian untuk memenuhi kriteria Standar Industri Indonesia (SII) guna memperoleh hak kekayaan intelektual.

Sangat efisien

”Uji kinerja dan teknis untuk memperoleh efisiensi termal yang memenuhi SII sedang dilakukan,” tutur Supriyanto yang juga berkonsultasi dengan Profesor Teiss, ahli energi petani dari Belanda.

Tentang efisiensi tungku ciptaannya itu, menurut Supriyanto, bisa dibuktikan karena dari 1 kilogram bahan bakar berupa ranting, limbah kayu, dan bambu, dapat digunakan untuk memasak selama sekitar dua jam. Limbahnya hanya berupa 10 gram abu.

”Jadi, dari 1.000 gram bahan bakar yang digunakan itu, tinggal 10 gram yang menjadi abu. Sebanyak 990 gram telah dikonversi menjadi energi atau bisa dikatakan tingkat efisiensinya sebesar 99 persen,” ujar Supriyanto tentang penelitiannya selama sekitar tiga tahun itu.
Sumber : KOMPAS
Diposting oleh petani berdasi

Pamotan – Budidaya lobster bagi Kabupaten Rembang tergolong asing, karena selama ini warga yang mencoba perikanan darat lebih senang memelihara ikan lele, mujahir atau beberapa jenis ikan lain. Tapi untuk lebih memasyarakatkan lobster, Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Rembang mulai mencoba pengembangan lobster yang dipusatkan di Balai Benih Ikan BBI Pamotan.
...
Di tempat ini terdapat 16 ekor lobster induk yang sebagian diantaranya sudah bertelur. Selain itu ada pula 500 an ekor lobster calon induk yang ukurannya masih kecil. Salah satu penjaga Balai Benih Ikan BBI Pamotan, Agus Purwantono menjelaskan pengembangan lobster membutuhkan lahan yang cukup luas, karena bak sepanjang satu meter hanya bisa untuk 10 ekor. Apalagi masa panenan mencapai 6 bulan, sehingga peminatnya masih rendah. Kalau soal makan dan perawatan sehari hari, sebenarnya terbilang cukup mudah.

Agus Purwantono menambahkan kalau soal prospek harga jual lobster, bisa menembus angka Rp 150 ribu per kilo gram. Pemasarannya juga terbilang mudah, karena lobster sudah merambah ke kota kota di Indonesia. Tidak hanya sebagai bahan menu masakan spesial, tetapi juga untuk proses budidaya.

Mengenai pengembangan perikanan darat termasuk lobster, Kepala Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Rembang, Abdul Nasir menjelaskan balai benih ikan saat ini sudah dilengkapi berbagai jenis ikan tawar. Masyarakat yang akan membudidayakan, bisa datang untuk memilih bibit lobster dan ikan. Pihaknya berharap supaya sektor perikanan darat di Rembang lebih meningkat, karena jika hanya mengandalkan perikanan laut saja tidak akan mencukupi.

Abdul Nasir mengutarakan wilayah Kabupaten Rembang cukup potensial untuk pengembangan ikan tawar, terutama jenis lele. Pasokan bahan makanan, seperti ikan dengan kualitas rendah cukup mudah didapat di Tempat Pelelangan Ikan TPI. Harganya yang murah Rp 2 ribu bisa mempercepat pertumbuhan ikan lele. Anda tertarik untuk mencoba ? Tinggal pilih, budidaya lobster atau lele ?
Sumber : Radio R2B Rembang
Diposting oleh petani berdasi
Visit the Site
Bila Anda belum menemukan cinta yang Anda inginkan, jangan buru-buru merasa unlucky in love. Karena kalimat bijak mengatakan, cinta akan datang saat kita tidak mengharapkannya. Bagaimana menurut Anda? -Copyright at Dhe To © 2009, All rights reserved